"Sempurna!" Jasmine terbahak dalam hati, bibirnya bergerak-gerak menahan tawa agar tidak keluar.
"Aku tidak perlu bekerja keras untuk membuatnya menderita, siapa suruh dia tidak memberitahukan kesembuhan Mas Lintang," batin Jasmine, "wanita mandul ini terlalu berbahaya jika aku melawannya langsung," lanjutnya dalam hati sambil matanya menatap Embun tajam. Tidak seorangpun yang melihat raut wajah jahat Jasmine.
"Embun, ini demi kebaikan kita semua," tukas Lintang sambil memandang Embun.
"Demi kebaikan wanita ular ini dan kau, Mas!" batin Embun.
"Aku Juga sebenarnya tidak mau merepotkan Mba Embun, tapi aku tidak bisa menolak keinginan jabang bayi ini. Aku Juga tidak mengerti mengapa bisa seperti ini," ujar Jasmine sambil mengusap perutnya
"Karena dia tahu kalau Mba Embun juga ibunya," sahut Lintang.
"Yang benar saja, ibunya bagaimana? Mengandungnya saja tidak, aku yang kesusahan dan dia seenaknya saja ingin menjadi ibu dari anakku juga," batin Jasmine.
"Aku merasa tidak enak hati, mungkin Mba Embun jadi merasa seperti pembantu," tambah Jasmine, memainkan aktingnya.
"Tidak perlu merasa tidak enak hati, ibu hamil memang wajar seperti itu," sahut Bu Inggrid, "masih untung Jasmine ngidam masakan Embun, kalau ngidamnya masakan tetangga, kan, repot," lanjutnya.
"Mana mungkin ngidam masakan tetangga,Ma," timpal Lintang.
"Buktinya ada ibu hamil yang seperti itu," sahut Bu Inggrid.
"Lintang yakin Embun sebenarnya tidak keberatan, Embun tidak setega itu."
"Apapun itu yang penting cucuku sehat dan lahir dengan selamat."
*****
"Embun, sedang apa kau di sini?" Lintang menghampiri Embun yang memandang birunya air kolam.
"Mengapa tidak bergabung dengan mama dan Jasmine? Mereka sedang minum teh di ruang tengah," lanjut Lintang lalu memeluk tubuh Embun dari belakang dan mengaitkan dagunya pada bahu sang istri.
"Tidak," jawab Embun singkat tanpa mengalihkan perhatiannya dari air kolam.
"Omongan Mama tadi jangan diambil hati, ya. Mama tidak berniat menyakiti hatimu. Mama hanya ingin kamu paham bahwa hamil itu tidak mudah," ujar Lintang. Embun hanya bergeming mendengarnya, ia terlalu kecewa kepada mertua dan suaminya.
"Jangan berpikir mama tidak menyayangimu. Mama sayang sama kamu, hanya saja mama terlalu takut terjadi sesuatu pada calon cucu pertamanya. Kamu dan Jasmine sama di mata Mama."
Embun menarik sedikit sudut bibir membentuk sebuah senyum tipis, hatinya menolak percaya kata-kata yang keluar dari mulut lelaki itu setelah melihat buktinya. Kata-kata tersebut hanyalah omong kosong untuk menghibur hatinya yang justru membuatnya semakin sakit.
"Kita yang lebih mudah harus mengerti, kalau seandainya ibumu masih ada pasti beliau juga melakukan hal yang sama seperti mama." Lintang mengeratkan pelukannya pada wanita yang bak patung itu.
Mulut Embun terkatup rapat enggan untuk berbicara, Lintang tidak akan mengerti rasa sakitnya. Andai ia mengatakan jika hal tadi hanyalah permainan Jasmine yang ingin membuat hidupnya menderita, sudah pasti lelaki itu tidak percaya dan akan menyalahkannya.