Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #34

Bab 34 | Cinta Kalian Berdua

Embun bersandar pada kepala ranjang sembari memangku laptop memeriksa pekerjaannya. Sejak tadi siang Embun tidak keluar kamar, ia juga tidak peduli apakah Jasmine mau makan atau tidak.

"Aku perlu egois juga demi kewarasan diriku sendiri," gumam Embun.

Terdengar suara pintu kamar di ketuk, Embun menoleh sekilas lalu kembali memfokuskan diri pada laptop. Dia tidak peduli pada suaminya di luar sana, melihat lelaki itu hanya akan membuat hatinya sakit. Biarlah ia mengurung diri.

"Embun!"

"Embun, buka pintunya."

"Paling hanya ingin menyakitiku," gumam Embun sambil jari-jarinya menari di atas keyboard.

"Embun, sudah waktunya makan malam. Kau belum makan sejak siang," teriak Lintang dari balik pintu, tetapi Embun tidak peduli. Ia sengaja melakukan itu agar sang suami tahu jika ia kecewa dengan keputusan lelaki itu.

"Embun, nanti kamu sakit."

"Apa pedulimu, Mas. Setiap hari juga aku sakit," batin Embun sambil terus berkutat dengan laptop.

"Embun, plis buka pintunya dulu."

"Bagaimana, Mas? Apa Mba Embun tetap tidak ingin keluar?" ujar Jasmine mendekati suaminya. Lelaki itu menoleh ke arah istri mudanya dan mengangguk sebagai jawaban.

"Sepertinya Mba-mu sangat marah padaku."

"Memangnya apa yang sudah Mas lakukan padanya?" tanya Jasmine pura-pura tidak tahu. Lintang tidak menjawab pertanyaan Jasmine.

"Biar aku yang coba, Mas. Siapa tahu Mba Embun mau membuka pintu." Jasmine berpindah ke depan pintu, Lintang sedikit mundur.

"Mba Embun …." Jasmine memanggil dan mengetuk pintu. Dalam hati Jasmine berharap Embun tidak pernah keluar dari kamar itu.

"Mba, Mba belum makan malam lho."

Embun tersenyum miring mendengar suara Jasmine, ia sungguh muak pada aktingnya adik madunya itu. Ia tetap membatu di atas tempat tidur, meskipun perutnya perih minta segera diisi. Ia akan keluar tengah malam setelah penghuni rumah terlelap.

"Mba, Mba dengar aku?"

Berulang kali Jasmine mengetuk pintu dan memanggil nama Embun. Namun, tetap tidak ada jawaban dari dalam.

"Mungkin, Mba Embun tidur, Mas?" ujar Jasmine sambil menoleh ke arah suaminya.

"Tidak mungkin, ini baru pukul tujuh malam." Lintang melirik jam tangannya. "Biar aku mencobanya lagi."

Jasmine menggeser tubuhnya ke samping, membiarkan sang suami melakukan seperti yang dilakukannya tadi.

"Embun, buka pintunya sebentar saja." Kamar itu tetap suntik seperti tidak ada orang di dalamnya.

"Embun!"

Lihat selengkapnya