Tiga bulan berlalu …
Sejak kejadian malam itu, Embun harus menerima bahwa kini hati suaminya benar-benar telah terbagi. Pahit memang, tetapi ia harus menelan kenyataan itu.
Embun menghela napas kasar memikirkan jalan hidupnya. Ia menatap wajah yang semakin tirus di cermin, terlihat seperti orang yang mengidap penyakit.
Selama dua bulan ini ia melakukan apa yang Lintang inginkan, Embun berharap sang suami mengingat pengorbanannya satu hari nanti. Ia sudah merelakan batin dan perasaannya tersiksa demi kebahagiaan lelaki itu.
Hari ini Embun akan pergi ke toko, sudah dua bulan ia tidak menengok tempat usahanya. Semalam ia sudah meminta izin kepada Lintang dan Lintang mengizinkan. Setelah itu ia akan kembali seperti tahanan atau seperti pembantu untuk Jasmine. Embun tersenyum getir. Entah, dia baik atau bodoh.
*****
"Kau sudah siap, Jasmine?" ujar Lintang mendekat ke arah sang istri yang sedang merias diri.
"Sebentar, Mas. Aku belum selesai."
Lintang menghembus napas kasar lalu duduk di tepi tempat tidur, menunggu wanita berdandan memang sangat membosankan, padahal hanya ingin memeriksakan kandungan. Tidak mengerti mengapa wanita suka berlama-lama memoles wajah, apa saja yang mereka gunakan sehingga memakan waktu pikir Lintang.
"Kau sangat tidak sabar, Mas," tukas Jasmine sambil tangannya terus bergerak pada wajah.
"Sebenarnya apa yang membuat para wanita begitu lama berdandan?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Lintang.
"Mas, rangkaian skin care ini step by step butuh waktu untuk meresap di kulit," ujarnya sambil memandang suaminya lewat cermin.
"Baiklah, aku mengerti. Aku tunggu di bawah," sahut Lintang lalu beranjak.
"Lihat, Papamu, Nak. Dia jahat sekali, dia membiarkan kita turun sendiri, dia tidak khawatir kalau kita terjatuh di tangga," ujar Jasmine berbicara pada bayinya sambil matanya melirik pergerakan Lintang.
Mendengar perkataan sang istri, Lintang menghentikan langkah, menghembus napas kasar dan berbalik ke tepi ranjang. Ibu hamil itu mengulum senyum melihat tingkah sang suami.
"Ibu hamil itu menyeebalkan, tapi aku harus sabar," batin Lintang.
Jasmine sudah selesai berdandan, mereka pun bertolak menuju rumah sakit. Tidak berapa lama pasangan suami istri itu tiba di tempat tujuan, mereka langsung menuju ruangan dokter obgyn. Sebelumnya mereka sudah membuat janji.
Jasmine berbaring di atas tempat tidur, dokter yang dibantu seorang perawat mengoleskan gel pada perutnya. Kemudian dokter menempelkan transducer USG pada perut calon ibu tersebut dan mulai melihat perkembangan janinnya.
Pasangan suami istri tersebut diminta melihat ke layar monitor dan dokter pun mulai menjelaskan perkembangan bayi Jasmine, semuanya bagus dan normal. Jasmine dan Lintang tersenyum mendengarnya seraya mata tidak lepas dari janin yang nampak pada monitor, ada rasa haru bercampur bahagia.
Terakhir, dokter mengatakan jika bayi mereka berjenis kelamin laki-laki. Senyum lintang semakin lebar merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Tidak menyangka sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah, hidupnya akan sempurna.