Lintang menyusul istri tuanya, sementara Jasmine menunggu di kasir sambil tersenyum menyeringai. "Tidak akan kubiarkan kau hidup tenang barang sebentar saja," batinnya.
Lintang menerobos masuk ke dalam ruangan Embun. "Embun, kenapa kau seperti ini?" tanyanya.
"Harusnya aku yang bertanya mengapa istri mudamu itu berlaku seperti ini padaku?" Embun menyilangkan tangan di dada. Tidak ada lagi rasa segan terhadap lelaki itu.
"Dia sedang hamil, wajar dia bersikap seperti itu."
"Kalau dia membunuhku, itu wajar?"
"Jangan berbicara yang aneh-aneh. Jasmine tidak akan mungkin melakukan itu, dia tidak sejahat yang kau pikirkan."
Embun terbahak menutupi luka hati yang semakin dalam, entahlah, lelaki di depannya ini hanya sekadar tidak peka atau bodoh.
"Maaf, Mas, untuk kali ini aku tidak akan mengabulkan permintaan Jasmine. Di rumah aku yang memasakkan makanan untuk kalian, masa di sini aku juga harus membuatkan kue. Jangan keterlaluan! Aku lelah."
"Itu karena kau terlalu perhitungan makanya terasa lelah." Kalimat itu bagai mata pisau yang merobek jantung Embun.
"Terserah apa katamu, Mas. Apapun yang kulakukan sepertinya tidak ada artinya, kau tetap tidak melihatnya," ucap Embun datar sambil menekan sesak dalam dada. Matanya memanas ingin menumpahkan buliran bening.
"Pergi dari ruanganku!" usir Embun dengan nada dingin dan memalingkan wajah.
"Embun, aku meminta tolong padamu …."
"Aku tidak mau! Kalau kau memaksa kau saja yang membuatnya sendiri," sela Embun lalu menyalakan laptop.
"Embun, kau sungguh tidak mau membantu?" Embun hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Baiklah." Lintang keluar dengan kekecewaan. Lelaki itu akhirnya membujuk Jasmine. Namun, Jasmine tidak mau dan memilih tidak membeli kue.
"Maafkan aku," ucap Jasmine lirih yang membuat Lintang menoleh padanya. Lintang melihat ibu hamil itu tampak sedih. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang.
"Aku selama ini sudah merepotkan," tambah Jasmine berpura-pura merasa bersalah.
"Tidak, jangan berpikir seperti itu. Mba-mu tidak merasa direpotkan, dia seperti itu hanya sedang lelah saja," sahut Lintang sambil fokus menyetir.