Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #39

Bab 39 | Pingin Nasi Goreng

"Kamu tidak apa-apa?"

"Aku tidak apa-apa." Embun mencoba berdiri. Saat terpeleset satu tangannya berhasil menangkap pembatas tangga sehingga dia tidak menggelinding ke bawah.

Embun kembali menapaki anak tangga pelan-pelan dengan langkah agak pincang. Sementara itu, Jasmine yang melihat dari sofa tertawa pelan sambil menyayangkan istri pertama suaminya tidak terjadi sesuatu yang serius.

"Kau sungguh tidak apa-apa?" Lintang masih berdiri di tempatnya.

"Iya," sahut Embun singkat. Setelah itu, Lintang pun turun dan kembali ke sofa.

"Tidak ada niatmu menyusulku, Mas. Berikan sedikit perhatian atau hanya sekadar mengusap kaki yang terasa sakit ini," gumam Embun sambil berjalan menuju tempat tidur.

"Hah! Kenapa aku selalu lupa kalau aku ini tidak penting," ujarnya sambil meluruskan kaki dan bersandar di kepala ranjang.

"Mas," rengek Jasmine, "aku tiba-tiba pingin makan nasi goreng," lanjutnya.

"Bukannya tadi kita sudah makan?"

"Lapar lagi." Jasmine mengembangkan senyum menampakkan barisan gigi sambil mengusap perut.

"Ya sudah, biar Mas beli sekarang." Lintang beranjak dari sofa.

"Tidak mau!"

Lintang mengerutkan kening sambil memandang sang istri yang memajukan bibir dan wajah ditekuk. "Lalu, kau mau apa? Katanya tadi mau makan nasi goreng," tanyanya lembut setelah kembali mendudukan diri di sofa.

"Mas, kan tahu aku suka masakn siapa? Masa beli, sih!"

"Maksudmu kau mau makan nasi goreng buatan Mba-mu?" Jasmine mengangguk sebagai jawaban.

"Baiklah, tunggu di sini ya," ujar Lintang dan Jasmine kembali mengangguk. Selepas kepergian suaminya Jasmine tertawa kecil karena berhasil mengusik Embun. Ia tidak perlu bersusah payah, cukup merayu sang suami dengan mengatasnamakan bayi dalam kandungannya, lelaki itu akan menuruti semua keinginannya.

Embun yang sedang memeriksa e-mail masuk menoleh ke arah pintu ketika mendengar pintu kamarnya diketuk.

"Embun." Terdengar suara sang suami memanggilnya.

"Mau apa lagi, sih?" gumam Embun sambil beranjak turun dari tempat tidur. Ia berjalan sedikit pincang menuju pintu.

"Ada apa, Mas?"

"Kau sibuk?" tanya Lintang.

"Seperti biasa."

Lihat selengkapnya