Jenar pergi ke sebuah supermarket bersama salah satu PRTnya untuk belanja bulanan. Wanita itu memang tidak pernah melepaskan PRTnya untuk berbelanja sendiri, dia ingin memastikan sendiri bahan makanan yang dipilih berkualitas.
Jenar dan sang PRT turun dari mobil dan melenggang menuju ke dalam supermarket. Namun, langkah Jenar terhenti ketika mendengar seseorang berbicara padanya.
"Bu, Jenar … kita bertemu lagi." Jenar terkejut mendengar suara yang cukup familiar itu. Saat menoleh jantungnya serasa ingin melompat ke luar. Namun, dia berusaha terlihat tenang. Jenar pun menyuruh sang PRT menunggu di dalam.
"Jafar! Buat apa kau di sini? Kau mengikutiku?" ucap Jenar pelan. Namun, sarkas.
Lelaki yang bernama Jafar itu terkekeh membuat Jenar bergidik ngeri. "Tuhan yang telah mempertemukan kita di sini."
"Maaf saya tidak ada waktu untuk meladeni Anda, saya sibuk, permisi!" Jenar berlalu dari hadapan Jafar.
"Tunggu!" Jafar mencekal lengan Jenar dan menyeretnya ke tempat yang agak sepi.
"Lepas!" Jenar menghempas tangan Jafar, dia sungguh takut dengan lelaki berhati iblis itu. Dalam hati ia sangat menyesali perbuatan di masa lalu. Namun, nasi sudah menjadi bubur, menyesal pun tiada guna.
"Kau tidak bisa lari dariku begitu saja," ucapnya penuh penekanan.
"Kenapa kau kembali lagi ke kota ini? Bukankah kita dulu sudah sepakat?"
"Uang! Karena uang makanya aku kembali."
"Aku sudah mengeluarkan banyak uang untukmu, tapi mengapa sekarang kau langgar kesepakatan itu," kata Jenar, "jangan katakan kau ingin aku memberimu uang, aku tidak akan mengabulkannya," tambah Jenar sengit lalu membuang wajah ke arah lain.
"Oh … jadi, kau ingin aku mengatakannya pada suamimu?" Sebelah alis Jafar terangkat seraya tersenyum menyeringai.
Jenar langsung menoleh ke arah Jafar dengan tatapan benci, "Jangan macam-macam!"
"Aku tidak mau bermacam-macam. Cukup satu macam saja, beri aku uang!" Jari jempol Jafar menyatu dengan telunjuk dan bergerak-gerak melambangkan uang, dia terkekeh mengerikan.
"Aku bukan Bank!" tolak Jenar.
"Baiklah kalau seperti itu, bersiaplah untuk menghadapi kehancuranmu. Aku akan mengatakan semuanya pada suamimu dan kau akan dicampakkan olehnya," tukas Jafar santai. Namun, membuat Jenar sangat ketakutan.
"Eros, kan? Nama suamimu? Aku juga tahu alamat kantornya dan aku tinggal datang ke sana dan mengadukan semuanya. Ha-ha-ha!" Wajah Jenar pucat, dia benar-benar salah karena pernah berurusan dengan Jafar.
Cinta yang telah membutakannya sehingga ia rela menceburkan diri dalam perangkap iblis tanpa memikirkan akibat jangka panjangnya. Jenar pikir setelah semua selesai, selesai juga urusan di antara mereka. Namun, ternyata dia salah.
"Aku juga tahu rumahmu." Jafar tersenyum menyeringai. "Tinggal pilih mau aku menemuinya di kantor atau di rumah kalian," lanjutnya.
"Jangan gila, kau!" Jenar frustasi.
"Selamat tinggal Nyonya Eros, sampai jumpa lagi." Lelaki itu berbalik beranjak pergi.
"Tunggu!" Suara Jenar menghentikan langkah Jafar, lelaki itu tersenyum lebar. Dia sudah menduga itu akan terjadi.
"Ba-baiklah, aku akan beri kamu uang."