Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #42

Bab 42 | Fitnah Jasmine

Jasmine mengambil ponsel dan mencari kontak suaminya. Dia akan mengadukan perbuatan Embun, tentu saja dengan sedikit tambahan bahan-bahan yang akan mematik api kemarahan Lintang.

Jasmine tertawa kecil sebelum menekan kontak bernamakan suaminya, ia membayangkan bagaimana lelaki itu memarahi Embun. Embun pasti sangat menderita.

"Terima dan nikmatilah ini wanita mandul," gumamnya lalu menekan kontak suaminya.

Sementara itu, di kantor Lintang sedang berbicara dengan sekretaris menanyakan jadwalnya "Apa hari ini saya ada jadwal meeting?"

"Hari tidak ada, Pak. Jadwal meeting Bapak baru ada di hari kamis pukul 01.00 WIB siang, restrospective bersama seluruh tim," sahut Oscania sembari melihat ke dalam map yang dibawanya.

Ponsel Lintang bergetar menandakan ada panggilan masuk, mata lelaki itu melirik benda pipih yang terletak di atas meja. "Jasmine? ada apa dia menelponku?" batin Lintang.

"Baiklah, kau boleh keluar sekarang," titah Lintang. Sekretaris cantik tersebut pun undur diri dari ruangan itu.

Jasmine masih menunggu sang suami mengangkat telepon, dia berdecak kesal karena panggilannya belum kunjung dijawab. Dia sudah tidak sabar mengadukan semuanya.

"Mas Lintang kemana, sih?" gumamnya sambil melihat layar ponsel yang masih bertuliskan memanggil, lalu kembali menempelkan benda pipih tersebut ke telinga.

"Halo, Jasmine. Ada apa?" terdengar suara Lintang di seberang telepon, mata Jenar membulat seraya bibirnya tersenyum lebar.

"Halo, Mas," suara Jasmine dibuat serak seperti sedang menangis, wanita itu juga sesekali sesegukan.

"Ada apa?" Lintang sangat khawatir mendengar suara Jasmine seperti itu, pikirannya sudah melayang kemana-mana membayangkan ada sesuatu yang terjadi pada ibu hamil tersebut.

"Mas … Mba Embun," ucapnya sambil terus berpura-pura menangis.

"Embun kenapa?"

"Mba Embun tadi mendorongku, aku terjatuh ke tanah," ucapnya.

"Apa?" Lintang berdiri dari duduknya, tangan lelaki itu terkepal erat hinggap menampakkan urat-urat.

"Kenapa dia bisa mendorongmu?"

"Tadi Mba Embun mau pergi dan aku mencoba menghalanginya dan mengingatkan tentang perintahmu," ujar Jasmine.

Tangisnya semakin deras. Air mata buaya itu sangat mudah ia keluarkan, entah kapan dirinya belajar akting.

"Dia tidak terima dan mendorongku hingga terduduk di tanah," lanjutnya.

"Sekarang dia di mana?" Lintang benar-benar murka.

"Pe-pergi, Mas."

"Kurang ajar!" batin Lintang.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Lintang lembut, dia sungguh khawatir pada Jasmine dan bayi dalam kandungannya.

"Aku tidak apa-apa, Mas. Tadi perutku sempat sakit, tapi sekarang tidak lagi."

"Apa? Kalau seperti itu Mas pulang sekarang, kita ke rumah sakit."

Mata Jasmine membulat dan menjadi panik, bisa gawat kalau lelaki itu membawanya ke Dokter bisa-bisa dia ketahuan.

"Tidak usah, Mas. Aku sudah baik-baik saja."

"Tidak bisa, kita harus memeriksa kandunganmu. Terjatuh pada ibu hamil tidak bisa diremehkan, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada anak kita," papar Lintang.

Lihat selengkapnya