Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #43

Bab 43 | Kau Pantas Menerimanya

"Apa menurutmu aku sejahat itu, Mas? Kau tahu aku seperti apa, tapi mengapa kau sangat mudah percaya dengan omongan yang belum tentu kebenarannya." Mata Embun berkaca-kaca, adanya sesak.

"Seseorang bisa saja berubah, terlebih kalau sudah memiliki rasa iri dalam hatinya," ucap Lintang dingin dan menusuk.

Kata-kata yang keluar dari mulut lelaki itu sangat menyakiti, tidak ada lagi tutur lembut nan manis yang dulu selalu Embun dengar. Suara tinggi yang dulu tidak pernah Lintang keluarkan, kini sering ia terima. Embun rasanya ingin menangis. Namun, air mata itu masih tetap menggenang membuat dadanya semakin sesak.

"Hanya karena dia sedang mengandung lantas kau percaya begitu saja tanpa mau mendengarkan aku dulu!" ujar Embun, "aku yang selalu disalahkan di sini apapun yang terjadi padanya, entah dia mengarang atau sungguhan kau tidak peduli!" lanjutnya meledak-ledak.

"Tidak mungkin Jasmine hanya mengarang, kaulah yang mengada-ada untuk mengalihkan kesalahanmu!" Suara Lintang tidak kalah tinggi, wajahnya memerah.

Embun menggelengkan kepala, kata-kata Lintang bagai pisau yang menghujam jantung, setetes air mata mengalir begitu saja membasahi pipi.

"Kalau yang dikatakannya benar sudah pasti Jasmine saat ini sudah masuk rumah sakit, tapi buktinya dia baik-baik saja." Suara Embun melemah dan serak.

"Dia sudah kembali dari rumah sakit, apa kau tahu? Tidak! Kau tidak tahu, yang kau tahu hanya tentang dirimu saja!"

Embun menangis sesegukan karena tidak mampu lagi menahan beban di hati, dia menghapus setiap tetes air mata yang mengalir. Namun, buliran bening itu tidak ingin berhenti. Tubuhnya sampai bergetar karena merasakan kesedihan yang teramat sangat.

"Aku benar-benar sudah tidak ada artinya lagi untukmu, Mas," ucap Embun, "kau tidak mau lagi mendengarkan aku, bahkan kau tidak menanyakan terlebih dahulu mengapa aku sampai keluar rumah hari ini. Kau juga tidak ingin tahu apa yang aku alami," lanjutnya.

"Kau merasa seperti itu, coba tanyakan pada dirimu sendiri," imbuh Lintang datar.

Sementara itu, di luar kamar Jasmine tersenyum senang mendengar pertengkaran mereka. Pintu kamar Embun sedikit terbuka sehingga wanita hamil itu bisa mendengar semuanya dengan jelas. Rasanya dia ingin berjingkrak-jingkrak karena apa yang diharapkannya terkabul.

"Pasti dia merasa hidupnya sangat hancur, ha-ha-ha," gumam Jasmine pelan lalu pergi dari depan kamar Embun menuju kamarnya.

Jasmine berbaring di atas tempat tidur denganl bibir yang tidak henti-hentinya tersenyum. "Kasihan sekali kau wanita mandul," gumam Jasmine, "tapi aku tidak peduli," lanjutnya.

"Nikmati deritamu, salah sendiri tidak ingin pergi dari sini." Jasmine berbicara sambil memandang benci ke langit-langit kamar, dia membayangkan wajah Embun. "Akan ku ciptakan neraka untukmu," lanjutnya.

"Neraka siapa, Jasmine?" Suara Lintang yang tiba-tiba terdengar membuat Jasmine terkejut dan segera duduk. Wajahnya pias melihat Lintang sudah berdiri di dekat pintu.

"Ma-mas," ucap Jasmine terbata.

"Kau bicara apa tadi?" Lintang mendekati Jasmine, jantung wanita hamil itu berdegup cepat karena panik.

"Tidak, Mas. Aku tidak bicara apa-apa." Jasmine berusaha terlihat tenang, dalam hati dia mengumpat kecerobohannya karena tidak mengunci pintu.

Lihat selengkapnya