Ponsel Jenar berdering, sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Wanita itu mengerutkan kening menatap layar yang masih memekik itu.
"Halo, maaf, ini siapa?" tanya Jenar setelah mengangkat panggilan tersebut.
"Jenar …," Suara di seberang telepon membuat Jenar terlonjak kaget, dia bingung bagaimana bisa Jafar mendapatkan nomor ponselnya. Tidak lama kemudian Dia menepuk jidat, ingat jika lelaki itu pernah meminjam benda pipih tersebut.
Mata Jenar melirik ke pintu kamar mandi berharap suaminya masih betah berlama-lama di dalam sana. Dia pun berjalan menuju balkon.
"Ada apa kau menelponku malam-malam?" ujar Jenar pelan. Namun, tajam.
"Transfer lima puluh juta lagi sekarang!" titah Jafar tanpa basa-basi lagi.
"Aku sudah memberikanmu lima puluh juta beberapa hari yang lalu."
"Kau sangat banyak bicara, transfer saja agar rahasiamu tetap aman!"
"Kau mau memerasku? Aku bisa melaporkanmu ke polisi."
"Ha-ha-ha! Kau mengancamku? Aku tidak takut! Silakan laporkan!"
"Baiklah kalau itu maumu."
"Ya silakan, tapi sebelum itu terjadi aku yang akan menghancurkan hidupmu lebih dulu!"
"Ma …." Terdengar suara Eros memanggilnya, lelaki itu sudah selesai mandi. Jenar mengintip dari celah gorden dengan wajah yang pias. Dia semakin panik saat sang suami berjalan menuju balkon.
"Baiklah, aku akan transfer, tapi tidak sekarang," bisik Jenar.
"Aku tunggu hingga pukul sepuluh malam!"
"Ba-baiklah." Jenar langsung memutus panggilan.
"Ma, kau di sini? Sedang apa?" tanya Eros yang masih mengenakan handuk.
"Aku lagi cari angin, di dalam panas." Jenar mengipas-ngipas dengan tangan.
"Panas?" Eros mengerutkan kening, bingung mengapa Jenar bisa kepanasan, sementara AC di kamar mereka hidup.
"I-iya," jawab Jenar terbata, "Mas kenapa belum pakai baju? nanti masuk angin lho." Jenar mengalihkan pembicaraan.
"Bajunya mana?"
"Sudah kusiapkan di atas tempat tidur."
"Yang itu?"
"Iya, Mas."