Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #45

Bab 45 | Kurangajar

Lintang meletakkan kembali makanan itu di atas nakas dengan kasar, dia kesal karena niat baiknya tidak disambut baik oleh Embun.

"Terserah! Mau kau makan atau kau buang!" ucap Lintang setelah itu melesat ke luar kamar.

"Jasmine, kau sudah tidur?" tanya Lintang setelah memasuki kamar mereka. Ibu hamil itu berbaring di bawah selimut berpura-pura sudah tidur.

"Sudah tidur rupanya, cepat sekali," gumam Lintang memandang wajah Jasmine sekilas, kemudian lelaki itu berjalan menuju kamar mandi.

"Menyebalkan!" umpat Jasmine dalam hati sambil matanya sedikit terbuka mengintip suaminya yang masuk ke kamar mandi.

*****

Pagi ini Lintang pergi ke kantor sengaja berputar lewat jalan toko kue Embun. Entah mengapa dia sangat ingin lewat sana, padahal itu membuat jarak ke kantor lebih jauh.

Saat lewat tepat di depan toko tersebut, Lintang terkejut melihat tempat itu seperti habis terbakar. "Apa yang terjadi," gumam Lelaki itu kemudian membelokkan mobil ke bekas tempat usaha sang istri.

Lintang turun dari mobil dan berjalan mendekat. Namun, tidak melewati garis polisi yang terpasang. Kepalanya mendongak menatap dari lantai bawah lalu ke lantai atas, meneliti bagian bangunan yang terkena jilatan si jago merah.

Tampak beberapa orang dari toko-toko yang tidak jauh dari Embun's cake melihat Lintang, mereka berbisik-bisik. Namun, lelaki itu tidak peduli.

"Mengapa dia tidak memberitahuku masalah ini," kata Lintang kemudian masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.

"Apa Embun tidak menganggap aku sebagai suaminya lagi sehingga dia tidak memberitahukan hal sepenting itu." Lintang bermonolog sendiri sambil fokus menyetir.

"Dasar keras kepala!" umpat Lintang.

*****

Jasmine menuruni anak tangga dengan pelan, dia melihat Tuti sedang mengepel lantai. Bibirnya tersenyum miring karena sebuah ide licik muncul di kepala.

"Tuti!"

"Iya, Nya." Tuti menghentikan kegiatannya dan melihat ke arah Jasmine ya berdiri di anak tangga terakhir.

"Pergi!" usir Jasmine dengan gerakan tangan.

"Tapi lantainya belum selesai …."

"Tidak apa, sudah sana!" usirnya sekali lagi.

"Baik, Nya." Tuti beranjak sambil membawa peralatannya.

"Eh, eh, itu jangan di bawa, biarkan saja di sini."

Lihat selengkapnya