"Yes! Berhasil, dasar bodoh!" batin Jasmine, "mudah sekali tertipu," lanjutnya.
"Arg!" Jasmine masih meringis memegangi perut pura-pura sakit.
"Ayo ke rumah sakit sekarang!" Embun merangkul Jasmine hendak membantu ibu hamil itu menuju mobil, melupakan apa yang baru saja terjadi diantara mereka.
"Apa? Rumah sakit?" Jasmine panik. "Tidak, aku tidak mau ke rumah sakit, bisa-bisa ketahuan kalau aku sedang berbohong," ujar Jasmine dalam hati.
"Kita periksa kandunganmu."
"Tidak usah, aku istirahat saja di kamar, nanti hilang sendiri. Kata dokter ini biasa dialami oleh ibu hamil," tukas Jasmine melepas belitan tangan Embun.
"Kau tidak usah sok perhatian padaku, kau yang menyebabkan aku seperti ini!" ketus Jasmine, ia memanfaatkan keadaan untuk membuat Embun merasa bersalah.
"Makanya ayo ke rumah sakit biar bisa segera ditangani dokter!"
"Tidak usah! Aku tidak sudih pergi denganmu!
"Baiklah, kalau seperti itu biar Mas Lintang yang mengantarmu." Embun merogoh ponsel di dalam tas.
"Sudah kukatakan tidak usah! Tidak usah ikut campur masalah kehamilanku karena kau tidak tahu apa-apa!" cegah Jasmine.
Embun berdecak kesal, ingin rasanya dia menjambak rambut wanita itu sekali lagi. "Kau terlalu banyak bicara, sebenarnya kau itu sungguhan sakit atau tidak?" sembur Embun membuat Jasmine panik, wajahnya pias.
"Arg!" Jasmine kembali meringis. "Tentu saja sakit, mana mungkin aku berbohong," lanjutnya.
"Terserah, aku sudah menawari mengantarmu ke rumah sakit, jadi jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa pada bayimu." Setelah berkata demikian, Embun berlalu dari hadapan Jasmine.
"Tidak usah sok baik!" maki Jasmine, mengambil ponselnya lalu naik ke lantai atas. Embun masih dapat mendengarnya dengan jelas. Namun, mengabaikannya.
Jasmine mendengus kesal karena layar ponselnya retak parah, ingin rasanya dia melemparkan benda pipih itu pada wajah Embun dan menuntut ganti. Namun, tidak mungkin dia lakukan karena tadi saja Embun sudah seperti monster. Kulit kepalanya pun masih terasa sakit akibat jambakan wanita itu.
"Aku harus mengatakan ini pada Mas Lintang, lihat saja kau, Mandul!" gumam Jasmine, "akan kubuat wajahmu selalu basah dengan air mata!" lanjutnya penuh dendam.
*****
"Embun, ada yang ingin aku bicarakan," tukas Lintang setelah usai makan malam. Wanita itu mengarahkan pandangan pada sang suami sambil mengerutkan kening.
"Tumben," batin Embun lalu menenggak air dalam gelas hingga tandas. Jasmine memutar bola mata, telinganya panas mendengar perkataan sang suami.
"Mereka mau membicarakan apa ya?"batin Jasmine, "aku belum mengadukan perbuatan si mandul ini padaku tadi pagi," lanjutnya dalam hati sambil melirik Embun sebal
"Soal apa?"