Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #47

Bab 47 | Kau yang Membuat Jarak

"Aku mau hakku! Kita sudah lama tidak melakukan ini, kan?" ujar Lintang, "kau pasti juga merindukan sentuhanku," lanjutnya.

"Tidak, aku tidak mau!"

"Kenapa? Aku suamimu, aku berhak melakukan apapun terhadap tubuhmu," tegas Lintang.

"Kau minta saja pada Jasmine!"

"Kau juga istriku! Aku tidak ingin kau merasa seperti tidak memiliki suami. Ini, kan, yang kau mau?"

"Ini bukan hanya soal melakukan hubungan saja!" pekik Embun dalam hati, Lintang sudah salah mengartikan ucapannya.

"Tapi, aku sedang datang bulan!"

Perlahan cengkraman tangan Lintang mengendur dan lelaki itu turun dari tubuh sang istri. Setetes air mata mengalir begitu saja di pipi Embun, dia sedih mendapatkan perlakuan seperti tadi. Untunglah Lintang percaya dengan apa yang dikatakannya.

"Maafkan aku, aku tidak tahu," ujar Lintang merasa bersalah, lelaki itu duduk di tepi tempat tidur di samping Embun.

"Mengapa kau jadi sangat mengerikan seperti ini, Mas?" tanya Embun sambil menyeka lelehan air mata.

Lintang hanya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Dia seperti itu karena sakit hati atas ucapan sang istri, tetapi tidak mungkin mengatakannya.

Untuk beberapa saat hening tercipta diantara mereka, hanya terdengar detak jam dinding yang berputar. Baik Lintang maupun Embun hanyut dalam pikiran masing-masing.

"Aku merasa kita semakin jauh," ujar Lintang memecah kebisuan.

"Karena kaulah yang membuat jarak."

"Bukan aku, tapi karena egomu!" tegas Lintang karena merasa tidak seperti yang dikatakan Embun. "Kau terus menolak berdamai dengan keadaan kita, padahal kalau kau memang ikhlas tentu semua akan baik-baik saja," lanjutnya.

"Kau begitu yakin semua akan baik-baik saja, sementara kau tahu bahwa tidak mungkin menyatukan dua ratu dalam satu istana," sahut Embun, "ikhlas tidaklah semudah membalik telapak tangan, Mas," lanjutnya.

"Itu karena ikhlasmu hanya sebatas bibir saja, tapi tidak dengan hatimu."

"Aku tidak bisa mencegahmu untuk tidak berpikir seperti itu," ujar Embun, "lagi pula ini tidak akan lama lagi.

"Apa maksudmu?" Lintang mengerutkan kening.

"Bukan apa-apa." Embun menghela napas panjang.

"Mas Lintang di kamar dia?" Jasmine membuka pintu kamarnya dan berjalan berjinjit menuju depan pintu kamar Embun. Seperti biasa dia ingin menguping.

Jasmine tadi mendengar suara pintu ditutup kasar, sehingga membuatnya sangat penasaran apa yang terjadi dengan mereka. Dia menempelkan daun telinga pada pintu. Namun, dia tidak dapat mendengar apapun.

Lihat selengkapnya