Lintang berjalan gontai menuruni anak tangga, kepalanya terasa berat memikirkan permasalahan rumah tangga. Dia melihat Embun di ujung tangga yang entah dari mana hendak naik ke lantai atas.
"Embun!" Lintang mempercepat langkah mendekati Embun, sementara yang dipanggil menghentikan langkah seraya kepalanya mendongak ke arah suara.
"Aku mau bicara," tukas Lintang dan langsung menarik tangan Embun menuju ke taman belakang.
"Bukankah kita tadi sudah bicara," ujar Embun sambil mengikuti langkah suaminya. Namun, Lintang tidak menjawab perkataan sang istri. Lelaki itu menghempas tangan Embun kasar setelah sampai di taman.
"Kau sangat keras kepala!" ketus Lintang. Embun mengernyitkan kening, bingung.
"Tidak bisakah kau bertindak yang tidak menyakiti Jasmine?" lanjutnya dan Embun mematung mencerna perkataan suaminya.
"Memangnya apa yang dia katakan padamu, Mas?" tanya Embun santai sambil melipat tangan di dada. Dia sudah tidak heran lagi dengan sikap lelaki itu.
"Kau menarik rambutnya dan kepalanya masih terasa sakit hingga sekarang! Kau tau dia sedang hamil, mengapa tidak bisa bersikap lebih lembut padanya. Kalau pun kau tidak setuju dengan apa yang dia katakan, tidak perlu menggunakan kekerasan," papar Lintang, "kau harusnya lebih bisa mengontrol emosi karena dia sedang hamil, tubuh dan tenaganya tidak sekuat kau! Tapi kau malah bersikap seperti anak kecil yang tidak mau kalah tanpa memikirkan resikonya," tambah Lintang.
"Hamil bukanlah alasan untuk membenarkan segala kelakuan buruknya, meskipun aku juga tidak membenarkan apa yang sudah kulakukan, tapi aku tidak akan menyentuhnya kalau dia tidak mulai duluan," tegas Embun datar dan tajam.
"Memangnya sefatal apa yang dilakukannya sehingga kau tidak mau mengalah sedikit saja," ucap Lintang, "berkorban saja tidak mau, bagaimana mau bahagia" lanjutnya menyindir menghujam jantung Embun.
Embun tersenyum getir dikatakan tidak mau berkorban oleh Lintang, lalu? yang dijalaninya saat ini apakah bukan sebuah pengorbanan? Merelakan hati terluka dan perasaan tersiksa apa itu tidak termasuk pengorbanan. Sungguh dia kecewa pada Lelaki itu.
Embun menarik napas dalam menekan sesak yang bersarang di dada, membiarkan luka hatinya semakin mengaga. Berharap sakit dan kecewanya dapat mengikis perasaan terhadap lelaki itu hingga tidak tersisa.
"Aku tidak akan mengalah pada orang yang ingin menindasku!" tegas Embun, "aku akan membalasnya, tidak peduli dia siapa dan seperti apa keadaannya," lanjut Embun membuat Lintang geram. Embun sengaja berkata seperti itu karena kecewa terhadap Lintang, padahal dia selalu menahan emosi terhadap Jasmine.
"Siapa lagi yang akan membelaku kalau bukan diriku sendiri," tambah Embun. Lintang menggelengkan kepala melihat Embun sekarang yang menurutnya sudah berubah seperti monster.
"Kau sangat berbahaya! Pantas saja …." Lintang menggantung ucapannya, hampir saja dia mengucapkan kata yang keramat bagi Embun.
"Pantas saja apa, Mas?" Mata Embun menatap Lintang sendu. Hatinya sangat pedih mendengar kata-kata sang suami, meskipun Lintang tidak meneruskan ucapannya, tetapi dia tahu apa yang ingin lelaki itu ungkapkan.