Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #49

Bab 49 | Pahit Tidak Selalu Obat

Jenar menutup pintu setelah mobil Eros menghilang di balik pagar. Bibirnya tersenyum bahagia karena kehidupan pernikahannya yang sempurna, sesuai dengan apa yang pernah diimpikan. Memiliki suami yang tampan dan penyayang, anak-anak yang lucu dan ekonomi yang berkecukupan.

Jenar merasa menjadi wanita paling beruntung karena menikah dengan Eros, meskipun telah merebut lelaki itu dari wanita lain. Dia justru merasa bangga atas dosanya dan tidak merasa bersalah sama sekali.

Ponsel di genggaman Jenar berdering, tanpa melihat nama si penelpon dia langsung menjawab panggilan itu sambil mendaratkan bokong di sofa. Dia mengira itu adalah Eros.

"Halo, Mas ...," ucap Jenar dengan lembut.

"Jenar …." Suara di seberang telepon membuat wanita itu terlonjak kaget, dia menyadari kalau itu bukanlah suaminya.

"Ja-Jafar?"

"Iya, ini saya Jenar." Jafar kemudian terkekeh mengerikan.

"Untuk apa kau meneleponku pagi-pagi? Aku sibuk!" ketus Jenar.

"Kau pasti sudah tahu tujuanku menelponmu, he-he!"

"Lelaki ini benar-benar parasit! Dia terus memintaku memberinya uang. Apa dia pikir aku ini bank," batin Jenar, "bagaimana kalau Mas Eros curiga dan bertanya mengenai pengeluaranku yang besar," lanjutnya dengan rasa khawatir.

"Aku tidak punya uang lagi," bohong Jenar.

"Apa kau pikir aku percaya? Aku tahu pekerjaan suamimu, tidak mungkin kau sampai kehabisan uang."

"Aku juga punya kebutuhan, Jafar! Kalau kau mau uang sana kerja!"

"Oh, rupanya kau lebih ingin rahasiamu terbongkar dibanding memberiku uang yang tidak seberapa bagimu." Jafar mulai menyerang kelemahan Jenar.

"Tidak seberapa? Apa dia gila? Apa dia pikir uangku tinggal petik dari pohon belakang," batin Jenar, "Ya, Tuhan, aku benar-benar salah telah berurusan dengan orang sakit jiwa," lanjutnya.

"Bagaimana?" tanya Jafar di seberang telepon.

"Aku tidak punya uang lagi!"

"Baiklah, kalau seperti itu. Aku akan menemui suamimu di kantornya dan mengatakan semuanya."

"Silakan saja! Aku tidak takut!" teriak Jenar frustasi lalu memutuskan panggilan dan melempar ponsel ke sofa.

Jenar memijat kepalanya yang terasa mau pecah. Sungguh kehadiran lelaki itu menjadi bencana untuknya.

Lihat selengkapnya