Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #50

Bab 50 | Mengapa Harus Berbohong?

Embun melangkah masuk ke dalam cafe, pemandangan pertama yang dilihatnya cukup membuatnya terkejut. Lintang dan Jasmine juga berada di sana, mereka terlihat bahagia diselingi canda tawa.

Jantungnya berdenyut perih, kakinya terpaku di lantai, ia merasa dibohongi karena Lintang tadi mengatakan baru saja kembali dari rumah sakit. Seharusnya wanita hamil tersebut istirahat di rumah jika memang yang dikatakan sang suami benar. Embun meremas gaunnya karena api kebencian berkobar di dada.

"Permisi, Mba," ucap seorang pengunjung yang hendak masuk. Embun tersadar ternyata dirinya menghalangi di pintu masuk.

"Maaf," ucap Embun setelahnya mencari meia untuk duduk. Ia duduk tidak jauh dari suami dan madunya.

"Kenapa kau harus berbohong, Mas. Padahal, kalian bukan pasangan yang sedang selingkuh," batin Embun.

"Mas, terima kasih, ya untuk hari ini. Aku bahagia sekali," ucap Jasmine manja. Dada Embun seperti terbakar mendengar itu, dia mengeratkan cengkraman pada buku menu yang digunakan untuk menutupi wajah.

"Iya, memang sudah tugas Mas membuatmu bahagia," sahut Lintang yang semakin menyulut api cemburu Embun. Mata wanita itu memanas tak kuasa menahan perasaan.

Pasangan itu bersenang-senang, sementara dirinya merana di rumah. Embun menarik napas dalam lalu menghembus perlahan guna mengurangi sesak di dada.

Pasangan di depan Embun itu masih terus bercerita dan bercanda tentang banyak hal. Anak yang mirip siapa, menduga-duga hal lucu yang akan dilakukan bayi mereka ketika sudah lahir nanti, syukuran, masa depan anak-anak hingga masa tua mereka.

Embun benar-benar tidak kuat mendengarnya telinganya sakit, percakapan mereka membuat kekurangannya semakin terasa.

"Maaf, Bu, mau pesan apa?" tanya seorang pelayan menghampiri mengejutkan Embun

"Nanti saja, Mba," sahut Embun masih menutupi wajahnya dengan buku menu. Mendengar itu, pelayan pun pergi.

Embun beranjak dari duduknya dan melenggang ke luar cafe, lapar yang dirasakannya tadi mendadak kenyang setelah mendengar obrolan adik madu dan suaminya.

"Itu si Mandul? Dia di sini juga? Mas Lintang tidak boleh melihatnya," batin Jasmine tidak sengaja melihat Embun berjalan menuju pintu keluar.

Wanita hamil itu terus mengajak suami ngobrol dan menyuruhnya mencicipi makanannya agar lelaki itu tidak melihat Embun.

"Apa tadi dia melihatku dan Mas Lintang? Kalau iya bagus! Agar dia sadar diri posisinya sekarang," batin Jasmine sambil memasang senyum menyeringai.

Angin berhembus cukup kencang mengibaskan rambut dan pakaian Embun. Wanita itu mendongak menatap langit yang pekat tanpa bintang, sepertinya sebentar lagi hujan turun. Dia berjalan tergesa-gesa menuju mobil.

Embun menarik tuas dan mulai meninggalkan cafe membela jalanan kota yang cukup ramai. Hati dan perasaannya kacau karena melihat dan mendengar obrolan adik madu dan sang suami.

"Salah sendiri mengapa kau menguping pembicaraan mereka, yang melukaimu ya kau sendiri," gumam Embun sambil fokus ke jalan, matanya kembali berkaca-kaca. Cengkraman tangannya pada setir semakin erat.

Tiba-tiba Embun merasa ada sesuatu yang tidak beres pada kendaraan roda empat yang sedang dia kemudikan, jalannya tidak semulus tadi. Dia pun menghentikan mobil dan turun memeriksanya.

Benar saja, satu roda mobilnya kempes dan ada sesuatu yang menancap di benda bulat karet tersebut.

"Sial sekali hidupku!" gumam Embun sambil bertolak pinggang, matanya melirik ke sekitar mencari bengkel. Namun, tidak ada. Yang ada hanyalah toko-toko dan warung tenda.

"Embun." Suara seorang lelaki meyapa mengejutkannya, secercah harapan pun muncul.

Lihat selengkapnya