"Eros?"
"Ada yang bisa dibantu?" ujar mantan suami Embun tersebut. Embun terdiam sesaat dan nampak berpikir."
"Embun." Suara Eros kembali mengejutkan wanita tersebut.
"Ban mobilku kempes dan aku tidak bisa menggantinya," ucap embun pada akhirnya.
Setelah dipikir-pikir tidak ada salahnya jika dia meminta bantuan lelaki itu, toh di antara mereka sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi. Lagi pula status mereka saat ini mereka adalah keluarga.
"Baiklah aku akan membantumu."
"Terima kasih."
"Tidak usah sungkan seperti itu, sudah seperti sama siapa saja," ujar Eros sambil mengikuti langkah Embun ke belakang mobil guna mengambil ban cadangan.
Wanita itu hanya tersenyum canggung.
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan antara mereka, mata Embun menatap ke jalan melihat kendaraan yang berlalu lalang, sementara Eros sibuk mengganti ban.
"Habis dari luar?" tanya Eros memecah kebisuan.
"Iya," jawab Embun singkat tanpa menoleh ke arah lawan bicara.
"Sendiri saja? Lintang mana?"
Embun berdecak dalam hati mengapa Eros harus menanyakan lelaki itu. Seperti sudah lupa jika istri Lintang bukan dirinya saja.
"Sibuk," sahut Embun, "dengan istri mudanya," lanjut Embun dalam hati sambil menahan sesak.
"Kau sendiri buat apa di sini? Mana istrimu?" Embun bertanya balik sambil mengarahkan pandangan pada lelaki yang sibuk dengan roda mobil.
"Aku mau membelikan makanan yang Jenar inginkan, dia di rumah menjaga anak kami."
Embun terdiam sambil membayangkan alangkah bahagianya jika dia berada di posisi Jenar saat ini. Untuk kesekian kalinya dia merasa iri pada istri Eros.
Dia telah tersingkir dan digantikan oleh Jenar di hati Eros, dan sebentar lagi dia juga akan digantikan oleh Jasmine di hati sang suami.
Sialnya Lintang tidak mengizinkannya pergi dan memaksa bertahan dalam kubangan luka. Memang yang sempurna adalah prioritas utama pikir Embun.
Eros pun selesai mengganti ban mobil lalu membereskan peralatan. Lelaki itu berjalan mendekati Embun.
"Terima kasih sekali lagi," ucap Embun.
Disaat bersamaan mobil Lintang lewat dan Jasmine tidak sengaja melihat Embun dengan seorang lelaki di pinggir jalan. Jasmine tidak mengenali jika lelaki itu kakak adalah iparnya karena posisi Eros membelakangi jalan.
"Mas, itu, kan, Mba Embun? Sama siapa dia?" Jasmine memberitahu sang suami.