Embun melayangkan tamparan keras pada pipi Lintang. "Aku tidak serendah itu, Mas!" sarkasnya dengan dada naik turun karena emosi.
Lintang bergeming sambil menahan panas yang menjalar di pipi. Dia tidak menyangka sang istri berani melakukan itu padanya. Matanya menatap tajam.
"Lalu, untuk apa kau menemui laki-laki lain di luar sana selain suamimu kalau bukan untuk selingkuh!" Lintang masih terbawa emosi, terbayang Embun berbincang dengan seorang pria di tepi jalan.
Embun terdiam sejenak, rupanya lelaki itu melihatnya dan Eros tadi. "Tidak seperti itu, Mas! Kamu salah paham!" ujar Embun, "lelaki yang kau lihat itu adalah adik iparmu, Mas! Dia membantuku mengganti ban mobil yang kempes," lanjutnya.
Amarah Lintang perlahan mereda setelah mendengar penjelasan sang istri. Ia bernapas lega, meski masih tersisa sedikit kecemburuan di hatinya mengingat Eros adalah mantan suami Embun.
"Memangnya kau dari mana malam-malam sendiri?" Pertanyaan konyol itu meluncur dari mulut Lintang, Embun tersenyum sinis, bukankah beberapa bulan ini dia selalu pergi sendiri lantas mengapa baru sekarang dia menanyakan itu.
"Aku dari lotus cafe melihat kalian bermesraan," tekan Embun menatap Lintang sekilas lalu memalingkan wajah. "Kalau tidak sendirian lalu aku harus sama siapa?" lanjutnya sambil menahan sesak.
"Itu … aku bisa jelaskan …." Lintang melunak, wajahnya pias.
"Tidak perlu menjelaskan karena aku tidak ingin tahu," sela Embun. Ia tersenyum getir melihat ekspresi suaminya.
"Maafkan aku karena sudah menuduhmu, aku cemburu." Lintang tertunduk.
"Jangan kotori bibirmu dengan kata maaf, itu sudah jadi kebiasaanmu dan pasti akan terulang lagi."
"Embun …."
"Pergilah, Mas! Aku ngantuk," usir Embun sambil menatap suaminya.
"Aku akan menginap di sini."
"Jasmine lebih membutuhkanmu dari pada aku."
"Ayolah, Embun. Mengapa kau jadi keras seperti ini. Kau juga istriku, lagipula sudah lama kita tidak tidur bersama. Apa kau tidak merindukan aku?"
"Tidak," sela Embun lagi. Jantung Lintang seperti tertusuk anak panah mendengar satu kata itu. Lintang mematung merasakan sakit yang menjalar di dada.
Lintang menatap datar sang istri, ada marah dan kecewa yang terpancar di matanya. Namun, Embun tidak peduli. Dari pada Lintang, dia lebih banyak menelan kekecewaan.
"Pergi!" usir Embun lagi. Lintang masih bergeming.
"Mengapa kau begitu tega, Embun?" kata Lintang lirih.
"Terserah apa katamu, yang jelas keluar dari kamarku sekarang karena aku mau tidur!"