“Tidak! Tidak sama sekali!” tukas Jenar berpura-pura. “Kaulah yang melakukan itu!” lanjutnya.
“Kau yang memintanya!”
“Aku memberimu uang!” sahut Jenar dengan ketus. “Kau saja yang bodoh, andai waktu itu ….” lanjutnya dan terhenti tatkala Jafar menyelanya.
“Jika aku tidak pernah melakukan itu, tentu sampai saat ini kau tidak akan pernah memiliki Eros! Kau harusnya berterima kasih, permainamu yang bagus itu takluput dari peranku! Sekarang aku minta sedikit bagian dari apa yang kau capai dalam hidupmu itu dan kau menolak! Dasar tidak tahu diri!” sarkas Jafar.
Air mata Embun meluncur begitu saja seiring luka lama yang kembali terbuka saat mengetahui fakta itu. Bibirnya bergetar menahan tangis, sedapat mungkin agar tidak menimbulkan suara.
Embun beristighfar berkali-kali di dalam hati menahan sakit yang semakin menghunjam. rasanya pertahannya hampir runtuh. Segera dia menyudahi rekaman dan segera pergi dari cafe itu.
Embun menepikan mobil di pinggir jalan karena pandangannya dipenuhi oleh air mata. Sesekali ia memukul-mukul dada yang terasa seperti ditusuk-tusuk.
“Ya Tuhan, kenapa hidupku dikelilingi oleh orang-orang jahat.” Embun menangis tersedu-sedu menumpahkan perasaannya.
“Apa salahku, Tuhan, sehingga jalan hidupku begitu curam.” lanjutnya.
Setelah cukup lama tangis Embun pun reda, matanya terasa aneh. Dia diam dan menyandarkan kepala di kursi sambil menatap lurus ke depan.
“Kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian! Bedebah sialan!” gumam Embun sembari menggenggam erat setir mobil seolah meremukkan tubuh seseorang. Rahangnya mengeras dengan tatapan penuh kebencian. Dia kemudian merogoh ponsel dalam tas dan mulai mengirimkan pesan kepada seseorang.
Beberapa hari kemudian ….
Embun menarik napas panjang kemudian menceritakan kemelut dalam hidup yang sangat menyiksanya kepada Helena.
Hari ini mereka membuat janji bertemu di sebuah restoran sembari makan siang. Embun memilih ruangan VIP agar pembicaraan mereka tidak didengar orang lain.
"Jadi, kau sudah menikah lagi?" Yang hanya diangguki oleh Embun sebagai jawaban.
"Tega sekali mereka melakukan itu,” ujar Helena.
Helena mendengarkan cerita Embun sesak dibuatnya. Dia merasa iba atas apa yang menimpa sahabatnya itu. Disakiti oleh dua laki-laki yang sangat dicintainya.
Setelah sekian lama mereka tidak bertemu, Helena pikir Embun hidup bahagia bersama suami dan anak-anaknya, tetapi kenyataannya Embun malah diselimuti lara.
Masih sulit dipercaya mengingat Embun memiliki suami yang sangat mencintainya. Ternyata itu tidak bisa menjadi jaminan seorang lelaki akan tetap setia disaat pasangan jatuh ke titik terendah dalam hidupnya. Bukan dukungan yang didapat, dia malah dicampakkan.
"Aku kehilangan anak dalam kandunganku Karena kecelakaan itu. Bukan hanya itu rahimku juga harus diangkat karena mengalami kerusakan parah. Beberapa hari yang lalu aku menemukan sebuah bukti bahwa kejadian itu bukanlah murni kecelakaan dan aku merekam percakapan mereka.
“Astaga! Ternyata ada ya orang berhati iblis seperti itu,” ucap Helena, dia merasa iba pada sahabatnya.
“Mereka adalah iblis berwujud manusia,” sahut Embun. Dia merasa miris melihat nasibnya.
“Apa kau sudah melaporkannya ke polisi?" tanya Helena.
"Belum, aku ingin meminta bantuanmu, Helena."
"Baiklah Embun, aku akan membantumu. Kita akan membuat laporan ke polisi dan memperkuat kasus dengan bukti-bukti."