Lintang tergesa-gesa memasuki rumah dengan perasaan panik. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan calon anak dan istrinya.
Langkah kaki Lelaki itu terhenti saat melihat semua anggota keluarganya sedang berkumpul dan menyantap makan malam. Dia menghela napas lega.
Lintang segera menghampiri Jasmine. “Kau tidak apa-apa? Perutmu bagaimana?” Lelaki itu memasang wajah khawatir sembari sebelah tangannya memegang perut buncit sang istri.
Jasmine yang tidak mengerti apa-apa langsung melirik ke arah ibu mertuanya. Bu Inggrid memberikan kode lewat lirikan mata yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
Namun, Jasmine masih bingung apa yang telah dilakukan sang mertua sehingga suaminya sangat mengkhawatirkan keadaannya.
“A-aku ….” Jasmine tidak tau harus berkata apa. Melihat itu akhirnya Bu Inggrid bersuara. “Jasmine baik-baik saja. Mama sengaja biar kamu pulang, tapi itu bisa saja terjadi jika kau terus meninggalkannya.”
Lintang benar-benar lega mendengarnya, tetapi dia jengkel kepada sang ibu karena sudah membuatnya kalangkabut.
“Makanya, istri lagi hamil itu jangan ditinggal-tinggal. Jangan kesal, ambil pelajarannya,” kata Pak Yolan seolah mengerti isi hati anaknya. Padahal, lelaki itu tidak tau apa yang telah dilakukan sang istri.
Jasmine tersenyum tipis tanpa sepengetahuan yang lain. Dia sangat senang berada di keluarga itu, mertua yang menyayangi dan selalu membela adalah sebuah anugerah untuknya.
Namun, demikian Jasmine kurang suka dan tidak leluasa tinggal dengan mereka. Dia jadi tidak bisa menindas Embun. Dia ingin melihat istri tua suaminya menderita selama mereka belum bercerai. Tujuannya adalah menyingkirkan Embun secara halus dan menjadi satu-satunya untuk Lintang.
Lintang tidak bisa berkata-kata untuk menimpali perkataan orang tuanya. Yang dikatakan orang tuanya ada benarnya. Dia hanya menghela napas kasar.
*****
“Mas, baby-nya gerak,” teriak Jasmine memberi tahu suaminya saat merasakan gerakan sang bayi di dalam perut. Wanita itu duduk sambil bersandar di kepala ranjang.
“Mana, Mas mau merasakannya.” Lintang segera mendekat dan menempelkan telapak tangan pada perut sang istri. Namun, si bayi justru diam saja.
“Kok, tidak bergerak,” kata Lintang.
“Tadi bergerak, lho, Mas.”
“Sayang,” kata Lintang mengusap perut Jasmine berbicara pada calon anaknya.
“Mungkin dia malu, Mas.” Jasmine menatap wajah suaminya.
“Bisa seperti itu?” tanya Lintang mengerutkan kening. Jasmine haya mengangguk sebagai jawaban.
Tidak lama kemudian, Lintang merasakan gerakan sang bayi di dalam perut Jasmine. Wajahnya berbinar, tidak menyangka sebentar lagi dia akan menyandang gelar ayah.
Padahal, sebelumnya tidak pernah terpikirkan karena mengingat kondisi Embun yang tidak akan pernah bisa memberikannya keturunan, tetapi takdir justru berkata lain.
Jasmine sedikit meringis karena tendang sang bayi. “Apa sakit?” tanya Lintang sambil menatap mata sang istri.