Jasmine mengemudikan mobil dengan perasaan kesal. Sesekali tangannya memukul setir. Bayang wajah sumringah Embun dan suaminya tidak mau pergi dari ingatan dan dia membencinya.
Setelah kepergian Lintang tadi pagi, Jasmine pun pamit kepada Bu Inggrid dengan alasan mau ke rumah Jenar karena merindukan sang kakak.
“Mas Lintang mulai berani membohongiku,” kata Jenar, tangannya mencengkram erat setir, “berbohong demi membuat wanita mandul itu bahagia, aku tidak terima! Harusnya aku yang diberi surprise!” Rahang Jasmine mengeras, matanya dipenuhi kilatan amarah.
“Sebaiknya aku ke rumah kak Jenar saja, siapa tahu dia bisa membantu menyelesaikan masalahku.” Jasmine membelokkan mobil ke jalan arah rumah kakaknya.
“Tega sekali Mas Lintang melakukan ini.” Jasmine menyeka bulir bening yang lolos dari sudut mata. “Padahal aku sedang mengandung anaknya, harusnya dia lebih memperhatikanku, memperhatikan kebahagiaanku.” Hatinya sakit, dia merasa dikhianati.
“Kenapa wanita itu selalu dipentingkan padahal dia tidak berguna sama sekali, harusnya Mas Lintang ceraikan saja dia. Aku tidak mau berbagi cinta dan perhatian Mas Lintang apapun alasannya,” monolog Jasmine sambil tangannya sesekali menyeka bulir bening yang tidak ingin berhenti mengalir. Perasaannya begitu sensitif.
“Ini tidak adil, aku yang hamil harusnya aku lebih diperhatikan!”
Tidak lama kemudian sampailah Jasmine di rumah kakaknya. Setelah mengetuk pintu dan dibukakan, dia menghambur ke dalam pelukan Jenar dan kembali menangis.
“Kak, Mas Lintang jahat, dia tega!” adu Jasmine sambil tersedu-sedan.
“Sebaiknya kita duduk dulu, kau ceritakan semuanya setelah itu. Ibu hamil tidak boleh sedih seperti ini.” Jenar membimbing adiknya menuju sofa.
“Semua ini gara-gara wanita mandul itu!” kata Jasmine setelah mendaratkan bokong di sofa.
“Memangnya apa yang dilakukan mereka?” selidik Jenar.
“Pokoknya Kakak harus membantuku memberi pelajaran pada si mandul itu!” Jasmine menyeka air mata.
“Ya, itu sudah pasti, tapi ceritakan dulu apa yang telah mereka perbuat,” sahut Jenar. Jasmine langsung menceritakan semuanya dengan hati berdenyut-denyut dan perasaan hancur.
“Ini gawat! Sepertinya suamimu itu tidak akan bisa move dari istri mandul nya itu. Secepatnya kau harus menyingkirkan wanita itu!”
“Kalau saja di negara ini tidak ada hukum aku sangat ingin membunuhnya!” kata Jasmine berapi-api.
“Aku tidak mengerti terhadap suamimu, padahal kau sedang mengandung anaknya, tapi dia tetap saja mempedulikan wanita itu,” sahut Jenar.
Jasmine terdiam, hatinya semakin sakit mendengar perkataan Jenar. Terlebih bayangan Lintang dan Embun kembali muncul di ingatan seolah mengejeknya.