Embun terpaksa masuk kembali ke dalam rumah sakit mengikuti suaminya. “Mas …,” kata Embun mengimbangi langkah Lintang. Lelaki itu diam saja seperti tidak mendengar ada yang bicara.
“Mama tadi sudah mengusirku,” lanjutnya.
“Kau pantas mendapatkannya,” sahut Lintang datar dan merobek hati Embun.
“Mas, aku ….”
“Tidak usah membantah, kau memang salah!” ketus Lintang menyela ucapan istrinya.
“Baiklah,” batin Embun, dia tersenyum getir.
Melihat kedatangan Lintang dan Embun, amarah Bu Inggrid kembali tersulut. Dia berdiri dan siap mengusir kembali menantu yang memuakkan itu.
“Untuk apa kamu bawa wanita ini lagi kemari?” ketusnya lalu menatap Embun dengan mata melotot.
“Ada yang ingin aku bicarakan dengannya, Ma,” sahut Lintang.
“Bagaimana keadaan Jasmine, Ma? Bagaimana dengan bayi kami.” Tampak sekali wajah Lintang panik.
“Mama belum tahu, dari tadi Mama di sini dokter belum keluar juga. Semoga saja mereka baik-baik saja.”
“Semoga,” kata Lintang.
“Semua ini gara-gara wanita sialan ini!” Bu Inggrid menunjuk wajah Embun dengan penuh kebencian. “Dia adalah pembawa sial!” lanjutnya dengan berapi-api.
“Pergi!” kata Bu Inggrid seraya jari telunjuknya mengarah ke jalan keluar. Embun menatap wanita yang tengah emosi itu dengan tatapan yang sulit diartikan dan Bu Inggrid merasa ditantang.
“Kurang ajar!” maki Bu Inggrid. Seakan lupa bahwa baru saja dia ditegur perawat agar tidak membuat keributan.
“Ma, tenang, Ma. Ini rumah sakit,” tegur Lintang.
Hatinya sakit, sang suami diam saja ketika dia dicaci maki oleh ibu mertua. Tidak sedikitpun lelaki itu membelanya. Atau memang Lintang juga setuju dengan apa yang dikatakan Bu Inggrid.
Dia sendiri pun tidak ingin membela diri karena percuma saja, mereka tidak akan percaya. Embun merasa sendiri, dipojokkan dan tidak ada tempat untuk bersandar.