Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #61

Bab 61 | Demam

“Haha! Rasakan itu mandul! Pasti sekarang dia sedang bersimbah air mata,” gumam Jenar senang. Wanita itu diam-diam mengikuti dan menyaksikan semuanya.

“Aku tidak akan puas sebelum mereka bercerai! Aku dan adikku pantas menjadi satu-satunya wanita di hati lelaki kami,” monolog Jenar sambil menatap pantulan dirinya di cermin wastafel. “Aku sudah berhasil menyingkirkannya dari hidup Mas Eros dan sekarang aku juga akan menyingkirkannya dari suami adikku,” lanjutnya dengan senyum menyeringai.

“Menyingkirkan tanpa jejak.” Jenar merasa bangga mengingat apa yang telah dilakukannya pada Embun dulu. “Bahkan hingga detik ini tidak ada seorang pun yang tahu,” lanjutnya tersenyum penuh kemenangan.

“Kecuali para oknum itu … dan Jafar. Ya, Jafar sialan! Sekarang dia muncul lagi memanfaatkan semua itu untuk memerasku!” gerutu Jenar dengan kesal, tangannya mengepal mengingat Jafar yang selalu menerornya. “Sial!” Dia memukul pelan meja wastafel.

“Bagaimana aku harus menghindari lelaki itu? atau dia kugunakan saja untuk ….” Jenar tersenyum jahat, dia menemukan sebuah ide. “Setidaknya uangku tidak habis cuma-cuma dan setelahnya aku juga bisa minta ganti pada adikku itu.” Senyumnya semakin lebar.

“Yang penting Papa, Mas Eros dan yang lain tidak tahu,” monolog Jenar. Tiba-tiba ponsel Jenar berdering, dia segera merogoh tas dan melihat siapa yang menelpon.

Jenar menghela napas kasar, kepalanya terasa berat setelah mengetahui siapa yang menelepon. Dia berharap suaminya, tetapi tidak sesuai harapan.

“Dia lagi, sialan!” Jenar kemudian mengabaikan telepon itu.

******

Embun membuka mata perlahan dan menangkap pemandangan ruangan serba putih. Kepalanya masih terasa sedikit berdenyut.

“Kau sudah bangun?” tanya seseorang sambil berjalan menuju bed Embun. Sontak Embun langsung menoleh pada sumber suara.

“Helena,” gumam Embun pelan.

“Ya, kau tadi pingsan di pinggir jalan. Jadi, aku membawamu kemari,” kata Helena, “Apa yang kau rasakan sekarang?” lanjutnya.

“Aku baik-baik saja, Helena.” jawab Embun setelah bangkit dari tidurnya.

“Sebentar, ya, aku panggil dokter.” Helena beranjak hendak keluar dari ruangan.

“Aku mau pulang saja, Helena,” kata Embun membuat Helena menghentikan langkah, “lagipula aku tidak merasakan apa-apa.” Padahal kepalanya terasa sedikit pusing.

“Ya, aku akan mengantarmu pulang nanti, tapi setelah dokter memeriksa keadaanmu. “ Helena menghilang di balik pintu.

Setelah diperiksa dan dipastikan kondisi Embun baik-baik saja, Helena pun mengantarkan Embun pulang ke rumah.

“Apa aku boleh main kemari?” kata Helena setelah Embun turun dari mobil.

“Tentu, sekarang pun boleh. Tidak ada orang di sini selain aku dan bibi.”

Helena tersenyum. “Tapi tidak sekarang, mungkin di lain waktu.”

“Tidak apa-apa, pintu rumahku selalu terbuka untukmu.”

Lihat selengkapnya