“Sayang, saudara kamu pinjam uang lagi?” tanya Eros mendekati Jenar sembari memegang ponsel. Jantung Jenar berdetak cepat, tubuhnya panas dingin.
“I-iya, Mas. Ada masalah sehingga harus operasi lagi.” kata Jenar dengan gugup. Sejak beberapa hari yang lalu dia selalu mentransfer Jafar lagi.
“Jumlah yang dipinjam sangat besar, kapan mereka akan mengembalikannya?” tanya Eros mengalihkan pandangan pada wajah Jenar. “Dan apa pekerjaan saudaramu itu?” lanjutnya
Jenar terdiam dengan jantung yang berdebar-debar. Bukan debaran jatuh cinta melainkan debaran ketakutan.
Dia memaksa otaknya berpikir mencari jawaban yang masuk akal untuk membuat Eros percaya.
“Siapa namanya?” tanya Eros mengejutkan Jenar.
“Namanya … Jafar. Anak Jafar itu yang operasi.”
“Kau kenapa? Seperti terkejut?” Eros heran melihat reaksi sang istri.
“Tidak, aku hanya sedang memikirkan anak-anak kita,” kata Jenar cepat lalu menampilkan senyum palsu.
“Jika mereka pinjam lagi tolak saja, kita sudah cukup banyak membantu. Kita juga punya banyak kebutuhan.” kata Eros.
“I-iya, Mas.” Jenar bimbang dengan jawabannya.
“Bagaimana kalau kita mengunjungi mereka, Mas ingin melihat keadaannya.”
“Mas tidak percaya padaku?”
Eros mengeryitkan dahi semakin heran. “Mas hanya ingin silaturahmi. Lagipula Mas belum pernah bertemu mereka.”
Jenar semakin panik,
“Na-nanti aku … hubungi mereka kalau kita mau berkunjung,” kata Jenar ragu-ragu lalu menampilkan senyum palsu.
*****
Seminggu berlalu sejak kejadian itu dan setelah malam itu pula Embun tidak lagi melihat kehadiran Lintang di rumahnya. Yang biasanya datang dan pergi seperti jelangkung, kini hilang tanpa jejak.
Embun menyeruput teh hangat sambil memandang ke luar balkon. Matahari bersinar nampak malu-malu dari balik awan kelabu, dia tersenyum kecut.
Dia sakit dan akhirnya sembuh sendiri. tak ada yang memperhatikannya. Dia semakin mantap untuk berpisah dari Lintang karena dia sudah merasa seperti tidak punya siapa-siapa lagi.
Embun menghela napas kasar lalu berjalan masuk ke dalam kamar. Meletakkan cangkir teh, meraih ponsel yang berada di atas nakas dan mulai menghubungi Helena.
Embun memasuki sebuah cafe dan menuju ke lantai dua, memilih sebuah meja di samping kaca yang langsung menghadap ke pemandangan kota. Dia tidak memesan ruang VIP seperti biasa untuk obrolan hari ini.
Embun memesan secangkir minuman hangat sambil menunggu Helena datang. Dia menatap ke luar dan terlihat gerimis mulai turun. Ada perasaan tenang yang dirasakan melihat pemandangan dengan suasana hujan itu.