Mendengar suara orang yang ditunggu-tunggu, Jenar dan Jasmine berdiri dari duduknya. Keduanya tersenyum sinis dengan tatapan mengejek.
“Halo Mba? Aku kemari hanya ingin tahu bagaimana kabarmu,” kata Jasmine manis lalu menatap Jenar sekilas dengan senyum penuh arti.
Embun berdecih mendengar kata-kata Jasmine. Terdengar manis seperti madu namun sebenarnya mengandung racun.
“Kabarku baik-baik saja seperti yang kau lihat.” Embun melipat tangannya di dada.
“Oh, um … seperti itu, ya? Kau yakin? Kau tidak berbohong? Aku sedikit khawatir padamu?” Jasmine tertawa dalam hati.
“Seperti yang kau lihat,” sahut Embun, “sekarang kau sudah tahu kabarku, jadi silakan pulang!”
Jasmine geram mendengar Embun mengusirnya. Tangan di samping tubuhnya terkepal dengan mata menatap nyalang.
“Mengapa kau mengusir kami? Ini juga rumah adikku. Dia juga istrinya Lintang dan kau selalu harus ingat itu!” ketus Jenar.
“Ya benar, aku juga istrinya Mas Lintang dan sebentar lagi kami akan memiliki anak. Jadi, aku rasa aku lebih berhak atas rumah ini!”
“Oh, tidak mungkin aku lupa kalau Jasmine adalah istri siri Mas Lintang. Sedangkan aku Istri sahnya secara agama dan negara!” Embun tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi wajah adik madunya.
Perkataan Embun begitu menohok hati Jasmine. Genggaman tangan semakin erat hingga tanggannya bergetar, dia begitu murka. Dia ingin bermain api, tapi justru dirinya yang terbakar.
“Jadi, siapa yang lebih berhak?” lanjut Embun membuat darah Jasmine mendidih. Dia tersenyum tipis.
“Jaga mulutmu!” Jari telunjuk Jenar mengarah tepat di depan wajah Embun. Dengan santai istri pertama Lintang itu menurunkan jari lentik itu.
“Apa yang salah? Yang kukatakan benar, kan? Dan kau juga harus selalu ingat kalau adikmu ini hanya istri siri. ISTRI SIRI.” kata Embun dengan mata melirik Jasmine dan menekan kata terakhir.
“Kau tak sepantasnya berkata seperti itu, harusnya kau tahu diri!” ucap Jenar.
“Hanya wanita bodoh yang mau dinikahi secara siri sama suami orang. Haha!” Embun mengejek Jasmine dan itu membuat wanita hamil itu semakin geram.
“Kau cantik, pintar, tapi sayang tidak punya harga diri.” Embun melangkah beberapa langkah ke dekat Jasmine, lalu dia tersenyum mengejek.
“Walaupun kau istri sah Mas Lintang, tapi kau tidak bisa memberikan keturunan untuknya. Kau tidak berguna, apa artinya seorang istri mandul sepertimu!” ucap Jasmine sengit, dia tidak terima semua yang dikatakan Embun tentangnya. Amarahnya meledak.
Embun tetap berusaha untuk tenang, meskipun hatinya terasa seperti dihujani jarum. Dia senang melihat adik madunya kepanasan.
“Kau tidak lebih dari seongkok sampah di rumah tangga kami!” kata Jasmine hingga urat-urat lehernya muncul. Darahnya mendidih.“
"Jadi sampah saja bangga!” sambung Jenar dengan lirikan meremehkan.