Bel rumah Jenar berbunyi, wanita yang tengah menemani anak-anaknya bermain di ruang depan langsung berdiri.
“Pasti ada yang ketinggalan lagi,” gumam Jenar menuju pintu dan mengira itu suaminya.
“Ya, ada apa ….” Ucapan Jenar menggantung ketika mendapati dua lelaki berseragam cokelat. Rasanya dia ingin menutup pintu kembali.
“Selamat pagi, Maaf mengganggu, apakah Anda Ibu Jenar Zaira Wijaya?” tanya salah satu polisi.
“I-iya, benar, Pak. Ada apa, ya?” jawab Jenar ragu. Dia bingung dan merasa sedikit takut.
“Kami dari kepolisian sektor kota. Kami datang untuk menyampaikannya surat perintah penangkapan atas nama Anda, terkait penyelidikan atas dugaan keterlibatan Anda dalam kasus kecelakaan berencana sembilan tahun yang lalu,” lanjut rekan sang polisi.
Duar!
Bagai disambar petir, tiba-tiba rahasianya terbongkar dan entah siapa yang telah melaporkannya. Matanya melotot, jantungnya berdegup cepat. Jenar sangat ketakutan dan segala pikiran buruk muncul di kepala.
“Apa? Saya … saya tidak mengerti, Pak. Itu sudah lama sekali ….” Jenar berpura-pura tidak tahu.
“Kami paham, Bu. Namun, berdasarkan perkembangan penyelidikan dan keterangan saksi, Anda di diduga memiliki peran pada kejadian tersebut,” kata pak polisi lalu menyerahkan dokumen.”
“Ini surat perintah resminya. Kami mohon kerjasamanya untuk dapat ikut kami ke kantor guna proses pemeriksaan,” lanjutnya.
Jenar mundur sedikit, wajahnya pucat. “Tidak! Saya tidak bersalah. Saya tidak bisa ikut,” kata Jenar dengan suara bergetar. Bahkan dia belum membaca isi amplop itu.
“Bu Jenar, kami datang dengan surat perintah resmi. Anda berhak membela diri, tapi pemeriksaan tetap harus dilakukan di kantor polisi.”
“Saya tidak akan ikut! Ini rumah saya. Kalian tidak bisa memaksa saya dengan alasan yang jelas.” Jenar menolak keras dan berkata dengan nada tinggi.
“Kami tidak bermaksud memaksa, Bu. Tapi ini sesuai prosedur hukum. Jika Ibu menolak kami akan mencatat penolakan ini dan berkoodinasi dengan atasan kami untuk langkah selanjutnya termasuk penjemputan paksa,” sahut polisi satu lagi menjelaskan.
“Lakukan saja! Saya tidak akan pergi!” Jenar tetap keras kepala. Dia menyembunyikan kegugupannya.
“Baik, kami akan tindak lanjuti penolakan ibu. tapi perlu ibu ingat, semakin ibu menghindar proses hukum bisa menjadi lebih berat.”
Setelah dua polisi itu pergi, Jenar hanya menatapnya dengan perasaan kacau. Dia baru saja tertimpa sial, apakah hidupnya akan benar-benar berakhir setelah ini?
Jenar masuk ke dalam dan menutup pintu rapat. Tidak menyangka hal itu bisa terjadi. Dia tidak mengerti siapa yang telah membocorkan rahasia itu ke polisi. Dia akan sangat membenci orang itu.