Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #66

Bab 66 | Biar Aku Sendiri Dulu

Matahari bersinar hangat menyambut hari yang istimewa. Di sepanjang trotoar, balon warna-warni menari tertiup angin, dan spanduk bertuliskan “Grand Opening Embun’s Cake - from oven to heart” terpampang di depan toko yang baru dibuka.

Aroma harum kue panggang tercium dari balik etalase kaca. Barisan pengunjung mulai mengular, penasaran mencicipi aneka kue spesial yang menggoda selera. Dari brownies lembut, cheese tart creamy, hingga kue lapis legit khas racikan rumahan.

Di dalam toko, nuansa hijau pastel berpadu dengan dekorasi bunga segar dan senyum ramah para staf. Musik lembut mengiringi langkah pengunjung yang masuk satu per satu, disambut dengan welcome drink dan potongan kue tester.

Embun, dengan wajah penuh haru dan bangga, berdiri di tengah keramaian. Setelah kata sambutan singkat dan doa bersama, pita di depan pintu dipotong. Tepuk tangan pun bergema, menandai toko Embun’s Cake resmi dibuka.

Lintang lewat di depan toko kue Embun dan melihat keramaian itu. Dia sedikit heran dan segera membelokkan mobil ke dalam area toko.

Dia turun dari mobil. Matanya menyipit menatap ke spanduk tulisan di depan toko. Dadanya sesak karena merasa tak dianggap.

Lintang melangkah masuk ke toko, aroma manis kue menyambutnya. Dia segera menghampiri Embun yang saat ini sedang berada di depan etalase dan menyeretnya ke rooftop.

“Embun, apa ini? Mengapa kau tidak memberitahu kami hal sepenting ini?” tanya Lintang tanpa basa-basi. Padahal, toko itu dapat kembali beroperasi karenanya, bisa-bisanya Embun diam-diam saja.

“Aku tidak mau mengganggu waktu kalian,” Embun melipat tangan di dada dengan gaya santai dan memandang ke arah lain. Menahan perasaan yang tidak karuan. Rambutnya sedikit melayang-layang karena tiupan angin.

Lintang menghela napas kasar, “Ayolah, Embun. Jangan menganggap aku dan keluargaku seperti musuh,” ucapnya sambil menatap wajah Embun yang masih berpaling.

“Aku cukup tahu diri, Mas. Kandungan istrimu semakin besar. Kalian pasti sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kelahiran keturunan keluarga Svarga,” kata Embun dengan hati yang berdenyut-denyut. Sudut matanya terasa panas, ada sesuatu yang ingin menerobos ke luar, tetapi dia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak menangis lagi karena hal itu.

Iri, tentu saja dia iri dengan istri muda suaminya, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan selain membatin.

Tidak lama lagi, suaminya itu akan segera memiliki apa yang tidak bisa diberikan olehnya. Sakit, tetapi memang kenyataannya seperti itu dan harus ditelan sendiri.

“Tidak seperti itu, Embun ….”

“Fokus saja dengan Jasmine, Mas. Dia sangat membutuhkan dukunganmu saat ini. Biarkan aku berjalan sendiri dulu, aku butuh waktu agar bisa lebih tenang, terbiasa dan akhirnya berdamai dengan keadaan ini. Akus sedang berusaha untuk menyembuhkan luka, Mas. Tolong kerjasamanya,” kata Embun lembut, mencoba menyentuh hati suaminya.

Sudah lama ia tidak berbicara denga nada lembut seperti itu. Kali ini dia terpaksa melakukannya agar lelaki hati lelaki itu luluh dan mau menuruti keinginannya.

Lihat selengkapnya