“Oh, ya, Jenar. Mulai hari ini Mama mau tinggal di sini, tinggal sama kalian dan cucu-cucu Mama yang lucu,” kata Bu Riana membuat Jenar semakin terkejut.
“Ke-kenapa begitu, Ma? Bagaimana dengan Eris?” Jenar gugup, tapi tetap berusaha agar ekspresi wajahnya biasa saja.
“Eriska Minggu depan mau ke Malaysia, dia dipindah tugas ke sana. Mama tidak mau di rumah sendirian, sepi, tidak ada teman ngobrol. Setelah Mama pikir lebih baik Mama tinggal sama kalian,” jelas Bu Riana.
Jenar menghela napas kasar tanpa sepengetahuan mertuanya, seketika beban di pundaknya terasa bertambah.
Jenar jadi kesal terhadap wanita paruh baya itu. Bukan tidak ingin wanita itu tinggal di rumahnya, tetapi saat ini dia tidak ingin ada lebih banyak orang di rumah. Ia takut rahasianya terbongkar.
“Wanita tua ini hanya akan menambah masalahku saja!” umpatnya dalam hati.
Di lubuk hati yang paling dalam, sungguh Jenar tidak ingin satu atap dengan mertua. Terlebih dari rumor yang dia dengar jika mertua sering menjadi biang masalah dalam rumah tangga.
Sedangkan hidupnya kini dalam masalah besar dan dia tidak ingin siapapun tahu termasuk Eros. Jika sang mertua ada di rumahnya dua puluh empat jam, bagaimana bisa rahasianya bisa tetap terjaga. Ia frustasi memikirkan hal itu.
“Apa Mas Eros tau, Ma?”
“Belum, Eros belum tau. Biar nanti Mama kasih tau kalau dia sudah pulang.”
“A-apa Mas Eros akan setuju?” tanya Jenar terbata-bata.
“Tentu saja, mana mungkin dia tidak setuju ibunya tinggal di sini,” kata Bu Riana menusuk ke dalam hati Jenar dan menatapnya. “Kau keberatan?” tanyanya sdikit sengit.
“Tidak, Ma. Tentu saja aku senang,” sahut Jenar lalu memasang senyum manis.
“Ya, memang harus begitu. Itu namanya menantu yang baik. Di mana kamar Mama?” Bu Riana berdiri dan bersiap menyeret kopernya. Terpaksa istri Eros itu mengarahkan sang mertua ke kamar tamu.
“Mulut si tua ini sepedas cabe, aku tidak kuat jika dia harusnya tinggal di sini,” batin Jenar, “bukan aku tidak berani melawan, aku hanya tidak ingin suamiku membenciku. Dasar biang masalah!” lanjutnya masih dalam hati
Jenar berharap Eros tidak mengizinkan ibunya tinggal di rumah mereka. Belum apa-apa dirinya sudah dibuat tertekan dengan kehadiran wanita paruh baya itu.
Setelah hampir seharian menunggu, akhirnya Eros pulang. Lelaki itu masuk ke rumah dan di sambut oleh Jenar seperti biasa. Di mata Eros Jenar adalah istri yang sempurna. Itulah sebabnya dia sangat mencintainya.
“Eros, kau sudah pulang.” Tiba-tiba Bu Riana muncul dan menghampiri anaknya.