Malam semakin larut, semua penghuni rumah sudah terlelap. Namun, tidak dengan Jenar. Dia tidak bisa tidur karena terus memikirkan masalah-masalah yang kini menghimpit hidupnya.
Jenar meremas kuat ujung selimut. Perasaan cemas, takut dan bayangan-bayangan buruk berputar di kepala membuatnya sangat tidak tenang. Di kamar yang sunyi dan tenang itu, isi kepala Jenar begitu berisik.
“Ya, Tuhan. Tolong berikan aku jalan agar aku bisa menyelesaikan masalah ini,” kata Jenar dalam hati dengan penuh harap.
“Aku tahu aku pernah salah, Tuhan, tapi kali ini tolonglah aku. Maafkan kesalahan yang pernah kulakukan. Aku mohon kali ini tolong aku.” Jenar memohon dalam hati. Matanya terpejam. Kepalanya sudah panas berpikir namun tak kunjung menemukan jalan.
“Apa aku harus bekerja agar dapat uang?” Jenar bertanya pada dirinya sendiri karena sebuah ide muncul di kepala. “Tapi … apakah Mas Eros akan mengizinkan?” Dia ragu, mengingat Eros hanya ingin Jenar di rumah, mengurus suami dan anak saja. Semangatnya layu.
Lantas apa yang membuatnya tiba-tiba ingin bekerja, sementara semua kebutuhan lelaki itu penuhi. Eros mempekerjakan ART agar dirinya tidak mengurus rumah dan seorang baby sitter untuk membantunya.
Jenar bangkit dan duduk, ide cemerlang kembali muncul di kepala. Matanya membelalak senang. “Ya, aku bekerja saja di perusahaan papa.” Dia tersenyum lebar.
“Semoga saja mas Eros percaya dan setuju. Besok aku harus menemui papa untuk membicarakan hal ini.” Semangat Jenar membara. Dia kembali berbaring dan tidak sabar menunggu pagi tiba.
“Lagi pula di sini ada mama yang bisa membantu menjaga anak-anak. Dari pada dia tidak berguna,” batin Jenar sambil merapatkan selimut dan memejamkan mata.
“Bagaimana pun caranya besok, Mas Eros harus setuju,” lanjutnya, padahal mata sudah terpejam. Dia sudah menemukan ide dan sudah merasa sedikit tenang.
Kalau Eros setuju dengan keinginannya. Dia akan sangat bersyukur dan yang pasti masalahnya akan jadi sedikit lebih mudah. Dan masalah hutang fiktif itu akan menjadi masalah kecil.
Pagi yang ditunggu Jenar pun tiba. Matanya terasa aneh karena baru bisa tidur pukul setengah tiga pagi. Namun, tidak memudarkan semangatnya untuk segera mengutarakan keinginannya pada sang suami.
Jenar menyiapkan baju kerja sang suami, lalu dengan tenang membantunya memasangkan dasi. Tatapan matanya sesekali mencuri pandang, mencoba membaca suasana hati Eros sebelum ia membuka topik yang semalam dia pikirkan.
“Mas …,” ucap Jenar lembut sembari tangannya bergerak merapikan dasi.
“Ada apa?” jawab Eros sambil menatap mata Jenar.
“Ehm, anu ….” kata Jenar ragu-ragu. Dia menundukkan kepala.
“Anu apa? Uang belanja kurang? Mau minta tambahan?”