Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #71

Bab 71 | Mawar Tanda Luka

Setelah sarapan, Lintang bergegas naik ke kamar, dia teringat akan sesuatu. Jasmine pun menyusul sang suami.

“Mas, kau sedang apa?” tanya Jasmine muncul dari balik pintu. Dia melihat suaminya sibuk dengan mencari dan mengeluarkan kertas dari laci.

“Mas sedang siapkan berkas-berkas dan bukti untuk mengajukan sidang isbat nikah nanti. Kalau semua sudah lengkap, Mas tinggal bawa ke pengadilan,” kata Lintang sambil tangannya bergerak lincah. Dia tidak menoleh pada sang istri.

Jasmine senang mendengarnya, tetapi di sisi lain dia mau Lintang menceraikan Embun. Tidak mengapa, mengalah sebentar. Yang penting status yang sama dulu dengan Embun. Rencana kedepannya dia akan pikiran lagi.

“Mau di bawa kemana semua itu, Mas?” tanyanya lembut sambil memperhatikan berkas-berkas dimasukkan ke dalam tas kerja. Jasmine duduk di atas tempat tidur menghadap sang suami.

“Mas akan membawanya ke kantor. Di sana mas bisa fotokopi dokumen yang perlu,” kata Lintang tanpa mengalihkan perhatian dari berkas-berkas. “Mas juga akan hubungi saksi nikah kita kemarin supaya bisa jadi saksi di pengadilan nanti,” lanjutnya.

Jasmine tersenyum, hatinya menghangat. “Terima kasih sudah serius padaku,” ucapnya sambil menatap Lintang penuh cinta.

“Mana mungkin Mas tidak serius pada wanita yang sebentar lagi akan memberikan mas seorang anak.” Lintang berdiri dan mengusap puncak kepala Jasmine, kemudian tangan itu pindah ke perut.

Jasmine berjalan di belakang suaminya mengantar hingga ke depan pintu. Bibir itu tak henti-hentinya menyunggingkan senyum karena perasaan bahagia meliputinya.

“Karena kamu just mine,” bisik Lintang di telinga Jasmine sebelum masuk ke dalam mobil. Pipi wanita hamil itu merona seperti tomat, dia jadi salah tingkah.

******

Lintang menepi dan menurunkan kaca mobil. Matanya memandang ke arah tokoh kue di seberang jalan. Dari balik dinding kaca, terlihat sosok wanita yang masih menghuni hati sedang sibuk melayani pelanggan. Ini memang aneh, dia mencintai dua wanita sekaligus.

Rambut Embun terurai dan dijepit setengah. Dihiasi dengan senyum selalu yang merekah di wajah, membuatnya semakin menawan. Ada kerinduan yang menyelinap ke dalam hati lelaki itu.

Ingin rasanya Lintang menghampiri sosok itu, memeluk dan mengecup pipinya seperti dulu, tetapi dia ingat Embun ingin sendiri dulu saat ini. Dia mencoba menghargai keinginan Embun dan harus lebih bersabar.

Puas memandangi istri pertamanya, Lintang melajukan mobil dan berhenti di sebuah toko bunga di ujung jalan.

Setelah mendapatkan bunga yang diinginkan, Lintang kembali ke toko. Dia tidak masuk dan hanya menitipkan pada seorang remaja yang kebetulan lewat untuk diberikan kepada Embun.

Embun cukup terkejut dengan kehadiran seorang remaja lelaki yang tiba-tiba menyodorkan sebuah buket bunga.

“Untuk saya?” Embun mengernyitkan dahi sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Iya, Tante. Dari om yang di depan sana.” Remaja itu menunjuk ke luar, tetapi mobil Lintang sudah hilang. Mata Embun mengikuti arah telunjuk remaja itu dan ekspresi wajah seolah berkata, “mana?”

“Tadi omnya ada di sana, Tante. Pakai mobil hitam,” kata Remaja itu menyakinkan Embun.

Lihat selengkapnya