Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #72

Bab 72 | Undangan

Jenar menghitung hari. Hanya tinggal beberapa hari lagi dia akan masuk ke kantor sang papa. Dia harus memastikan Ethan tidak akan rewel lagi seperti hari ini, agar semuanya berjalan mulus.

Sebenarnya, dia ingin masuk hari itu juga, tetapi pak Wijaya menyarankan Jenar agar memulainya hari senin, supaya lebih profesional.

Dia terus mengayun-ayunkan tubuh mungil sang putra dalam gendongan yang mulai terlelap. “Sayang … Ethan tidak boleh rewel, ya. Ethan harus jadi anak baik. Mama harus bekerja biar kita bisa Bahagia terus, ya sayang. Bantu Mama, ya,” gumam Jenar lembut sambil menatap buah hatinya penuh perasaan.

“Maafin Mama, ya, kalau nanti sering ninggalin Ethan sama kakak Embun, ya. Mama Janji, kalau Mama libur akan main bareng, ya. Mama sayang kalian.”

Jenar mencium kening sang bayi yang sudah terlelap dan perlahan membaringkannya ke dalam box dengan hati-hati.

*****

Jasmine senyum-senyum sendiri sambil memandangi bunga seruni yang bermekaran di taman belakang. Sama seperti perasaannya saat ini yang tengah berbunga-bunga.

Dia terus mengingat apa yang Lintang katakan tadi pagi. Baginya itu adalah sesuatu yang sangat membahagiakan.

“Just mine,” gumamnya mengulang ucapan manis itu di kepala. Rasanya lebih manis dari madu. Senyumnya semakin merekah. Dia tak ubah seperti dara muda yang sedang kasmaran.

Beberapa malam yang lalu Lintang juga sempat melontarkan rayuan manis untuknya. Jantungnya semakin berdebar-debar. Dia merasa dicintai oleh lelaki itu. Bibirnya tersenyum makin lebar, tangannya mengusap perut.

Akhir-akhir ini dirinya benar-benar dibuat bahagia oleh sang suami, setiap kata yang keluar dari mulutnya mampu membuat jantungnya berdebar kencang.

“Bintang keberuntungan Mama,” gumam Jasmine penuh harap.

Rasanya Jasmine tidak sabar menantikan sosok yang masih menghuni rahimnya itu segera lahir ke dunia, menyempurnakan kebahagiaan yang dia rasakan. Impian terbesar Jasmine adalah menjadi istri Lintang satu-satunya. Namun, waktu terasa berjalan begitu lambat karena ketidaksabarannya.

Jasmine menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan, matahari sudah mulai naik dan hawa panas mulai menyengat kulit. Dia pun menyudahi aktivitas berjemurnya.

“Jasmine, sini sayang,” kata Bu Inggrid saat menantunya muncul. Jasmine langsung mendekat ke arah mertua yang tengah sibuk dengan ponsel di tangannya.

“Iya, Ma. Ada apa?” tanya Jasmine sembari duduk di samping Bu Inggrid.

“Kamu mau konsep yang seperti apa untuk acara kalian nanti.” Bu Inggrid mengarahkan layar ponsel pada Jasmine.

Lihat selengkapnya