Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #73

Bab 73 | Hari H

Hari yang ditunggu pun tiba. Siang itu kediaman keluarga Yolan Svarga telah disulap menjadi area acara tujuh bulanan yang begitu indah, dengan nuansa biru pastel seperti permintaan Jasmine.

Balon-balon bergelantungan di gerbang masuk. Tirai-tirai tipis terikat di tiang-tiang dekorasi. Bunga-bunga dengan warna senada menghiasi meja tamu dan panggung kecil di tengah halaman.

Jasmine duduk di tengah pelaminan kecil. Perut buncitnya dibalut kebaya biru muda. Wajahnya berseri, bibirnya tersenyum kecil. Kecantikannya semakin terpancar.

Ini bukan hanya sekadar acara tujuh bulanannya, tetapi juga ajang pembuktian bahwa dia kini adalah pusat di dalam keluarga Svarga. Di sampingnya, Lintang duduk dengan tenang, namun dengan jelas wajahnya memancarkan semburat bahagia.

Embun melangkah perlahan, dia mengenakan dress biru sesuai tema hari ini. Tidak ada senyum, tidak ada air mata. Hanya tatapan kosong yang mencoba tegar di hadapan semua kenyataan kini.

Melihat kedatangan menantu pertamanya, Bu Inggrid segera berdiri menghampiri, memeluk dan cipika-cipiki. Embun pun menyambut pelukan itu dengan perasaan tak menentu. Ia tahu, perlakuan itu palsu.

Wanita paruh baya itu seakan ingin menunjukkan tidak ada kerenggangan dalam keluarganya. Para pun tamu mulai berbisik-bisik.

Embun tahu, keberadaannya tidaklah penting. Dia hanyalah sebagai penonton atas kebahagiaan orang lain dan luka hatinya sendiri. Dan mereka semua memaksanya melihat pertunjukkan itu.

Prosesi dimulai. Air kembang disiramkan ke atas kepala Jasmine. Doa-doa dipanjatkan, harapan-harapan dilafalkan untuk bayi yang belum lahir itu. Satu demi satu orang terdekat menyiramkan air dengan senyum yang penuh harapan.

Kini giliran Lintang tiba, dia mengambil gayung dengan kedua tangan dan menyiramkan air ke kepala Jasmine dengan perasaan haru. Matanya menerawang, meresapi setiap detik yang berlalu dalam balutan doa dan harapan.

Hari ini dia menyiram air kembang ke kepala sang istri, dan beberapa bulan lagi, tangannya akan menggendong buah cinta mereka.

Hatinya bergetar, dipenuhi rasa syukur dan kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Sebentar lagi, dia akan menjadi seorang ayah, peran yang selalu dia impikan, peran yang akan mengubah hidupnya.

Lintang tersenyum, seolah dunia di sekelilingnya menghilang. Untuk sejenak, dia lupa bahwa ada hati yang berdarah. Seolah, luka yang ada, larut dalam air kembang yang mengalir dari tangannya.

Hari ini adalah tentang masa depan, tentang kehidupan baru yang sedang tumbuh dalam rahim Jasmine.

Embun hanya menunduk, hatinya seperti disayat-sayat. Setiap tetes air kembang itu baginya adalah penghapus semua kenangan yang pernah mereka miliki. Dirinya dilupakan.

Lihat selengkapnya