Tangan Embun bergerak pelan, menyuap nasi dan lauk ke dalam mulut yang terasa hambar. Rasanya yang tersaji di meja itu bukanlah makanan, tetapi kekecewaan.
Matanya selalu menatap layar ponsel yang gelap. Tidak ada pesan masuk, tidak ada panggilan. Hanya sunyi yang menjelaskan perasaan tidak dianggap dan tersisihkan. Embun menghela napas panjang melepaskan sesak yang menghimpit dada.
Denting suara sendok beradu dengan piring semakin menegaskan kalau kini dia sendirian di meja itu. Bibirnya tertarik membentuk sebuah senyum getir, tetapi di balik itu, ada api kecil yang masih menolak padam. Api keberanian untuk tidak selalu tunduk pada keadaan.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Embun menatapnya dengan mata membulat, berharap, tetapi benci. Ternyata pesan itu dari sahabatnya, Helena.
“Embun, aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja. Aku menunggumu di lotus cafe.” Isi pesan itu membuat hatinya menghangat, ternyata masih ada orang peduli padanya.
Embun menatap pesan itu lama, dia bimbang mau datang atau tidak. Tubuhnya lelah dan ingin istirahat, tetapi hatinya berkata ia tidak boleh memendam sendiri.
Setelah lama menimbang, Embun menyudahi makannya. Makanan yang baru sedikit ia sentuh, bahkan perutnya pun belum terasa kenyang. Dengan langkah berat, ia masuk ke mobil dan melaju ke tempat di mana Helena menunggunya.
Embun melangkahkan kaki ke dalam cafe, sebelumnya Helena sudah memberitahu dirinya berada di VIP 3. Helena duduk dengan tenang, kepalanya menoleh ke kaca yang menyuguhkan pemandangan kota. Di depannya sudah terhidang dua cangkir cafe latte panas dan dua potong croissant untuk dirinya dan Embun. Ia tahu temannya itu pasti datang tanpa nafsu makan.
“Kemari,” ucap Helena dengan suara lembut, penuh kekhawatiran saat Embun muncul dari pintu.
Embun menarik kursi dan duduk perlahan. Ia mencoba tersenyum. Namun, senyum palsu itu tak dapat disembunyikan dari sahabatnya.
“Kau terlihat lelah,” ujar Helena tanpa basa-basi.
Embun mengangguk pelan. “Hari yang panjang.” Lalu mengembus napas berat.
“Hari yang menyakitkan, maksudmu,” koreksi Helena lembut. Tatapannya penuh empati. “Aku tahu, ini tidak mudah, Bun. Tapi aku salut kau bisa sekuat ini.”
Embun menunduk, jarinya meremas ujung bajunya. “Setiap hariku memang menyakitkan,” ucap Embun lalu tergelak kecil. Namun, dari sudut matanya muncul cairan bening.
Embun masih menahan cairan itu agar tidak mengalir, belum apa-apa air matanya ingin menerobos. Betapa rapuhnya hatinya saat ini.
“Menangis saja kalau kau ingin menangis, tidak apa-apa. Menangis bukan berarti lemah, justru itu tanda kekuatan,” kata Helena. “Menangis memang bukan solusi, tapi setidaknya bisa membuat hati lebih legah,” tambahnya. Detik itu juga air mata Embun mengalir deras. Ia menangis tersedu-sedu.
Seketika ruangan yang hening itu dipenuhi suara isak tangis Embun. Helena tidak berkata apa-apa, ia hanya menyodorkan tisu dan membiarkan sahabatnya menangis sepuasnya.