Senin depan datang dengan cepat, tetapi terasa lama bagi Jenar. Dia sangat senang, pagi ini dia bersiap dengan semangat setelah urusan anaknya selesai.
Eros dapat melihat kebahagiaan sang istri yang terpancar dari wajahnya. Dia ikut senang melihat rona itu, meskipun di dalam hati dia merasa sedikit berat.
“Sudah cantik,” ucap Eros, melihat istrinya meneliti make up di depan cermin. Mungkin dia sudah cukup lama tidak masuk kantor makanya seperti itu, pikir Eros. Jenar tersenyum, senang sekaligus malu.
“Terima kasih,” ucapnya malu-malu.
“Maaf, Mas tidak bisa antar kamu di hari pertama ini karena Mas ada meeting pagi,” kata Eros. Dia mendekat lalu memeluk Jenar dari belakang. Mereka melihat pantulan di cermin.
“Tidak apa-apa. Mas izinkan aku saja, aku sudah senang.”
“Ya, Mas percaya kamu.” Kalimat Eros membuat Jenar berbunga-bunga.
Mereka turun sarapan. Bu Riana tampak tidak senang melihat Jenar dengan pakaian kantornya. Mereka makan dengan tenang dan damai pagi itu, dihiasi celotehan lucu Embun.
“Ros, kamu yakin? Membiarkan istrimu meninggalkan anak-anakmu demi egonya?” tanya Bu Riana menatap Eros. Jenar hampir tersedak lalu menghela napas berat mendengarnya. Sungguh dia benci wanita tua itu.
“Kalau tidak genting, Eros tidak akan membiarkan istri Eros kerja, tetapi mau bagaimana lagi? Keadaan Papa membutuhkan bantuan Jenar,” sahut Eros santai. Jenar tersenyum tipis mendengar jawaban itu. Dia merasa menang.
“Dengan mengorbankan anak kalian?” tambah Bu Riana membuat Jenar ketar-ketir. Kalimatnya seperti api yang siap menyambar sumbu masalah.
“Jenar tidak mengorbankan mereka kok, Ma. Buktinya Jenar mundur masuk kerja hari ini karena Jenar tahu prioritas,” sahut Jenar cepat.
“Mungkin kalau keadaan sudah stabil mungkin bisa dipertimbangkan, Ma,” kata Eros.
“Terserah kalian, Mama sudah mengingatkan.” Bu Riana menyerah. Anak dan menantunya keras kepala dan membuatnya jengkel.
Jenar tersenyum tipis, dia merasa di atas angin karena Eros lebih membelanya dibanding mendengarkan sang ibu.
“Love you, sayang,” ucap Jenar dalam hati yang ditujukan untuk suaminya.
“Mama, Embun sakit perut,” ucap gadis kecil itu sambil meringis memegangi perut.
Jenar menoleh, jantungnya berdegup cepat, ia khawatir masuk kantornya diundur Minggu depan lagi. Dia tidak bisa menunggu selama itu.
“Maksudnya?” tanya Jenar konyol, seolah semua kata yang ada di kepalanya hilang.
“Mau pup,” sahut Embun yaang membuat Jenar mengembus napas lega.