Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #76

Bab 76 | Awal yang Runtuh

Setelah Jenar dibawa oleh polisi, Bu Riana segera menghubungi Eros. Namun, sudah beberapa kali teleponnya tidak dijawab. Wanita paruh baya itu berjalan mondar-mandir sambil memegang ponsel di depan dada.

Dia mencobanya lagi namun hasilnya tetap sama. Matanya menangkap jam dinding yang menggantung dan melihat angkanya.

“Ya, Tuhan, bisa-bisa aku lupa Eros pagi ini ada meeting,” gumamnya. Segera jari-jarinya mengetik pesan dan mengirimkannya.

“Sebenarnya ada apa ini?” gumamnya penuh tanya. “Apa yang disembunyikan Jenar selama ini?”

“Semoga saja benar yang dikatakan Jenar, hanya salah paham,” ucapnya penuh harap. Ia segera berlalu ke dapur, tenggorokannya mendadak terasa kering.

“Oma! Mama sudah pergi, ya?” kata Embun yang tiba-tiba muncul di anak tangga paling atas.

Bu Riana menoleh. “Iya, Sayang. Kamu main saja sama Mbak dan adik, ya,” sahut Bu Riana.

Gadis kecil itu patuh dan berbalik pergi. “Kasihan cucuku, bagaimana kalau dia tahu kalau ibunya dibawa polisi. Semoga saja Jenar secepatnya pulang,” gumam Bu Riana sambil melangkah menuju dapur.

“Aku akan bujuk Eros lagi nanti agar Jenar tidak bekerja. Jenar tidak seharusnya meninggalkan anak sekecil itu, lagi pula mereka tidak kekurangan uang.” Dia menggelengkan kepala.

Selesai meeting, Eros kembali ke ruangannya. Dia menyalakan ponselnya dan terdapat banyak panggilan dari sang ibu. Pria itu mengerutkan kening, heran.

Dia kemudian menemukan sebuah pesan dan segera membacanya dan sangat terkejut. Dia diam sejenak, mencerna kalimat singkat yang dikirimkan sang ibu.

“Astaga!” Pria itu menjadi panik, mendapat kabar yang tak disangka-sangka.

Eros segera berdiri, keluar ruangan sambil memberitahukan sekretarisnya menitipkan kantor padanya.

Eros melajukan mobil menuju kantor polisi, matanya fokus ke jalan menyalip kendaraan yang ada di depannya.

Dia melirik jam tangan, sudah mau mendekati jam istirahat, lalu menambahkan kecepatan sebelum jalanan padat oleh mereka yang istirahat.

Sementara itu, setelah beberapa jam menjalani pemeriksaan, Jenar akhirnya dibawa ke ruang tahanan. Dikhawatirkan melarikan diri seperti rekannya, Jafar.

Semua yang telah disusun dalam otaknya selama perjalanan tadi, gagal. Dia tidak dapat mengelak lagi karena rekaman yang diputar berulang kali di hadapannya. Tubuhnya lemas, tenaganya terkuras, seolah habis melakukan pekerjaan berat.

Pintu besi itu tertutup dengan suara mencekam di telinga Jenar, seolah menjadi penutup dari dunia yang tadi masih bisa dipijak. Sunyi, dingin merayap cepat ke dalam hatinya.

Jenar terpaku sesaat, menatap kosong ke sekeliling. Ruangan itu sempit, dingin, dan asing. Bau lembap menusuk pelan, membuat dadanya terasa sesak. Ruang yang tidak pernah ada dalam bayangannya, kini ia tempati.

Lihat selengkapnya