Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #77

Bab 77 | Kabar Buruk

Eros menyeret langkah ke dalam rumah, tubuhnya terasa lemas dan penampilannya kacau. Hari ini dia seolah disambar petir, sesuatu yang sungguh mengejutkan. Perasaannya campur aduk. Cemas, kecewa dan bersalah menumpuk dalam dada.

Dia tidak langsung naik, dia menjatuhkan diri di sofa lalu bersandar. Dia memijat pangkal mata, kepalanya terasa berat. Bising, penuh pertanyaan yang belum menemukan jawaban.

“Eros!” Suara bu Riana mengejutkan lelaki itu. Tangannya berhenti, membuka mata lalu menoleh ke arah sumber suara.

Terlihat ibunya berjalan cepat ke arahnya dan duduk di sampingnya.

“Kamu dari mana saja? Mama sudah telepon berkali-kali, tidak diangkat. Sebenarnya ada apa ini? Jenar kenapa?” tanya Bu Riana, kepala Eros semakin berdenyut, tatapan mata wanita itu menuntut.

Eros menghela napas kasar, lalu menegakkan tubuh. “Jenar hanya dimintai keterangan,” sahut Eros. “Semuanya belum jelas.”

“Keterangan apa? Jenar tidak melakukan apa-apa, kan?” cecar Bu Riana.

Masih diperiksa, Ma,” jawabnya singkat. “Aku juga belum tahu semuanya.”

“Kamu tidak bertanya? Kamu kan suaminya, Ros!” Bu Riana berang terhadap putranya.

“Ma ….”

“Bagaimana bisa kamu tidak tahu apa yang dilakukan istri kamu selama ini? Tiba-tiba dia dibawa polisi.”

“Ma, Eros sungguh tidak tahu. Jenar selama ini hanya di rumah. Mengurus rumah dan mengasuh anak. Eros juga terkejut dengan semua ini,” jelas lelaki itu. Sunyi sejenak, atmosfer ruangan itu terasa menipis.

“Udah, ya, Ma. Eros naik dulu.” Lelaki itu bangkit dan meninggalkan Bu Riana di Sofa.

“Eros!” Panggil Bu Riana. Namun, lelaki itu tidak menghentikan langkah.

“Jangan-jangan kamu selama ini dibohongi istri kamu!” Wanita itu menatap punggung sang anak yang kian menjauh, entah Eros mendengar atau tidak.

“Ya, Tuhan, apa yang terjadi sebenarnya,” kata Bu Riana lirih. “Bagaimana nasib cucuku.” Dia begitu mengkhawatirkan cucu-cucu kesayangannya.

Langit berubah gelap dengan cepat. Matahari telah digantikan bintang-bintang yang bertaburan, menciptakan lukisan malam yang indah.

Namun, di dalam sebuah kamar, seorang ayah sedang menidurkan putrinya sambil bergelut dengan perasaannya.

“Pa, Mama ke mana?” tanya putrinya polos.

Hati Eros mencelos. Ia tersenyum tipis, menutupi semuanya. Ia ingin putrinya melihat bahwa semua baik-baik saja.

“Mama masih kerja, Sayang,” sahutnya singkat.

“Tapi… Papa juga kerja, setiap hari pulang?” Embun menatap wajah ayahnya. Eros terdiam sejenak.

“Mama lagi sibuk sekali, Sayang. Nanti kalau sudah selesai, Mama pasti pulang,” katanya sambil mengusap lembut rambut putrinya.

“Ya sudah, sekarang tidur dulu ya. Sudah malam,” lanjutnya. Gadis itu menuruti perkataan sang ayah, dia memejamkan mata dan tidak lagi bersuara.

Lihat selengkapnya