Cahaya siang menembus jendela VIP Lotus Cafe menciptakan garis-garis hangat di meja, tempat Embun duduk.
Sebelum datang, dia sudah menyiapkan semua berkas yang diperlukan. Dia hanya ingin semua yang telah direncanakan berjalan mulus.
Tanpa sepengetahuan Lintang, dia sudah menyiapkan langkah untuk pergi. Tidak peduli lagi jika nanti lelaki itu akan memohon, dia tahu betul bagaimana suaminya itu. Dia tidak akan goyah.
Embun merasa dirinya licik saat mengingat mengurus perkara ini dengan uang bulanan yang diberikan lelaki itu. Namun, dia mengabaikan rasa itu. Jika dia terus mengikuti hatinya yang selalu tidak enak, dia akan terus tersiksa.
“Maafkan aku, aku hanya berusaha menyelamatkan diri dari kayu yang kau beri. Bukan untuk kembali ke tempatmu, tapi untuk mendayung ke pulau seberang,” gumamnya lirih.
Tidak lama seorang pria berpakaian rapi dan terlihat profesional muncul dari pintu. Dia adalah Vito Siba, pengacara yang Helena katakan beberapa hari yang lalu.
“Selamat siang, Bu Embun. Maaf, membuatmu lama menunggu,” sapa Vito lalu menarik kursi dan duduk.
“Tidak masalah, Pak Vito.”
“Kau terlihat sangat siap,” ucapnya sambil membuka map berisi catatannya sendiri.
Embun mengangguk pelan, dia sedikit gugup. “Ya, Pak Vito. Saya ingin semuanya jelas dan cepat. Aku tidak ingin hal ini berlarut-larut.”
Vito menatap berkas-berkas di depannya, lalu menatap kembali Embun. “Baik, kita akan pastikan hak-hakmu terlindungi. Pertama, aku perlu mengetahui kronologi secara rinci dan dokumen pendukung. Kau sudah menyiapkan semuanya?”
“Sudah, Pak,” jawab Embun sambil menunjuk map di depannya. “Semua yang relevan sudah aku masukkan di sini. Aku ingin perceraian ini berjalan secepat mungkin, tapi tetap sesuai hukum.”
Vito tersenyum tipis, memberi sinyal bahwa Embun berada di jalur yang benar. Dia mulai membuka map tersebut dan menanyakan beberapa hal detail, sementara Embun menjawab dengan tenang, meski hatinya masih terasa sedikit tegang.
****
Jasmine dan Lintang dalam perjalanan kembali dari rumah sakit, sementara mertuanya sudah pulang sejak tadi pagi.
Jasmine bersandar lemah di kursi, matanya sembab. Dia merasa hidupnya mendadak berantakan.
Sang ayah terbaring di rumah sakit, ditambah kabar kakaknya yang ditangkap polisi. Semua datang bersamaan, tanpa memberi waktu untuk bernapas.
Lintang menoleh sekilas, melihat istrinya seperti itu membuat dadanya ikut sesak. Biasanya wanita itu banyak bicara dan manja, tapi kali ini diam. Terlalu diam.
Tangannya terulur, mengusap lembut pipi Jasmine. “Sayang, kamu mau es krim?” tanyanya saat mobil melewati sebuah outlet.
Panggilan itu biasanya selalu membuat Jasmine berdebar dan merasa menang. Kini, perasaan itu hilang entah ke mana.
Dia tidak sedang menang dari siapapun. Bahkan untuk bertahan saja terasa sulit. Jasmine menggeleng pelan. Dia tidak menginginkan apa pun.
Lintang ingin mengatakan sesuatu, ingin menenangkan, takut kondisi ini memengaruhi kehamilannya. Tetapi, kata-kata itu tertahan.
Siapa yang bisa menahan perasaan jika berada di posisi Jasmine?