“Dedenya menendang,” kata Jasmine. “Kencang sekali, aku terkejut dibuatnya.” Dia menaikkan volume suara agar sampai ke telinga Embun.
“Oh, ya ampun. Kamu buat Mas khawatir saja,” kata Lintang. Tangan itu mengusap pelan perut Jasmine. “Syukurlah kalau cuma dede main.”
“Iya, Mas. Sepertinya dede senang ke sini.”
“Embun menulikan telinga, membentengi hatinya, tidak memberi celah untuk luka yang sama. Iri itu pasti ada, tetapi dia tidak akan membiarkan perasaan itu menggoyahkannya.
“Tentu saja senang, kan di sini tempat ibunya juga,” kata Lintang, dia tersenyum hangat.
Tangan Embun terhenti lagi, telinganya tidak bisa mengabaikan kalimat itu. Muak, sungguh muak. Ia mengembus napas kasar lalu kembali lagi ke aktivisnya.
“Siapa yang Mas Lintang maksud? Aku? Tidak sudih,” batin Embun. Bibirnya tersenyum tipis, sinis.
Jasmine jengkel Embun tidak bereaksi apa-apa. Pancingannya tidak berhasil, hatinya membengkak. “Sial! Kenapa susah sekali sekarang?” batinnya.
Tidak kehabisan cara, Jasmine pindah ke dekat Embun, berpura-pura melihat kue di etalase itu.
“Mas, bagaimana kue cokelat itu?” Jasmine menunjuk ke dalam etalase.
“Kau mau ya ….” Belum selesai dengan ucapannya, Jasmine kembali meringis.
“Aw! Dede aktif sekali Mas,” katanya. Tangannya kembali menempel ke perut buncitnya. “Tendangannya selalu membuatku terkejut.”
“Sepertinya dia benar-benar senang di sini.” Tangan Lintang ikut membelai perut Jasmine.
“Sayang … main apa di dalam? Jangan kencang-kencang, ya. Kasihan mama,” ucap Lintang berbicara pada anak dalam kandungan Jasmine. Wanita itu tersenyum hangat sambil ekor matanya tidak luput memantau.
“Ya, Tuhan,” ucap Embun dalam hati. Tangannya sedikit bergetar, pena seakan berat.
“Oh, atau jangan-jangan dede mau kenalan sama Bunda Embun, ya?” kata Lintang lagi. Kali ini Embun benar-benar berhenti dan beranjak pergi dari sana. Pria gila itu gila pikirnya.
“Tidak! Ini anakku bukan anaknya,” batin Jasmine. Dia Cemburu.
“Embun, mau ke mana?” tanya Lintang. Wanita itu menghentikan langkah tanpa menoleh.
“Aku harus ke atas,” sahut Embun singkat dan ingin melanjutkan langkah.
“Tunggu dulu, bayi kita mau berkenalan denganmu.”
Dada Embun naik turun, napasnya terasa berat. Tangannya mengepal di samping tubuh. Dia memejamkan mata sesaat, menahan sesuatu yang hampir lolos. “Aku sibuk,” ucapnya singkat. Suaranya datar namun menusuk.