Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #81

Bab 81 | Tamu Datang Pagi-Pagi

Embun bangun sedikit kesiangan. Matahari menyelinap dari celah jendela dan menerpa wajahnya, seolah membangunkannya dari buaian mimpi.

Embun mengerjapkan mata, ia menggeliat. Perasaan lebih baik dari biasanya. Pertemuannya kemarin dengan Vito dan Helena, seolah mulai melepaskan satu-persatu tali-tali yang selama ini melilit tubuhnya.

Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, Embun turun ke lantai bawah. Lelah itu masih menempel, tetapi rasanya sedikit lebih ringan.

“Pagi, Nya,” Sama Bi Mar dan Tuti.

“Pagi, Bi.” Embun menarik kursi langsung duduk.

Dia melihat menu sarapan pagi dan mengucapkan terima kasih pada keduanya. Setelahnya dia membubuhkan makanan ke dalam piring.

Baru menelan dua sendok tiba-tiba bel rumah berbunyi. Bi Mar segera bergegas ke depan dan membukakan pintu.

Sementara, Embun hanya mengernyitkan dahi dan menebak itu Lintang. Seketika selera makannya hilang, perutnya mendadak kenyang. Dia mengembus napas kasar.

“Kenapa harus kemari, sih,” gumamnya kesal.

“Selalu saja mengganggu ketenanganku!” gumamnya

“Sabar Embun, tinggal sebentar lagi, sedikit lagi! Setelahnya kau tidak akan pernah melihat lelaki memuakkan itu,” monolognya, menyemangati diri.

Dia mengembus napas kasar sekali lagi. Belum juga lelaki itu muncul, atmosfernya sudah terasa menipis.

“Heh mandul!”

Embun tersentak ketika tiba-tiba tubuhnya didorong. Dia menoleh pada Jasmine yang seperti hantu tiba-tiba muncul.

Jasmine mengatakan pada mertuanya ingin ke rumah sakit menjenguk sang papa. Dia ngotot tidak mau ditemani Bu Inggrid dan akhirnya dia hanya pergi bersama sopir saja. Wanita paruh baya itu mengalah karena tidak ingin sang menantu tertekan.

Namun, Bu Inggrid tidak tahu, sebelum ke rumah sakit, Jasmine akan melaksanakan rencana dan misinya sejak semalam. Dia sungguh tidak terima keluarganya jadi seperti itu

Sedari semalam hati Jasmine bergemuruh mendengar Lintang tidak berhasil membujuk Embun. Setelah sang suami pergi ke kantor, dia beraksi. Dia bahkan tidak memedulikan kehamilannya dan yakin akan baik-baik saja.

“Apa-apan ini?” ketus Embun, kemudian berdiri. “Datang-datang ke rumah orang, tidak punya sopan santun!”

“Tidak usah pura-pura kamu!” Dada Jasmine naik turun, kemarahan dalam dadanya begitu besar.

“Pura-pura apa? Bukannya yang suka pura-pura itu kau?” kata Embun sinis. Jasmine semakin meradang.

“Kalau kau ada masalah denganku, langsung saja denganku!”

Embun mengernyitkan kening heran. “Apa maksudmu?” Dia melipat tangan di dada.

“Jangan pura-pura bodoh! Kak Jenar dipenjara karena kau!” Jari telunjuk Jasmine menodong wajah Embun. “Dan karena itu pula papaku masuk rumah sakit!”

Embun menarik sebelah sudut bibir. “Aku memang pintar, makanya kakakmu bisa di penjara,” sahutnya ringan. Namun, bagi Jasmine itu seperti bensin yang disiramkan pada kobaran api.

Lihat selengkapnya