Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #83

Bab 83 | Kehadiran Dan Kepergian

Mobil ambulance berhenti di depan IGD. Pintu langsung dibuka cepat. Beberapa perawat segera berlari membawa brankar.

“Cepat! Pasien kritis!”

Tubuh Jasmine langsung dipindahkan lalu didorong cepat memasuki ruang tindakan. Wajahnya pucat, darah masih mengalir dari pahan hingga membasahi kain yang menutupinya.

“Tekanan darah turun!”

“Siapkan ruang operasi!”

Para dokter dan perawat bergerak cepat. Suara alat medis saling bersahutan memenuhi ruangan dengan tegang.

“Detak janin melemah, Dok!” kata salah satu perawat.

Jantung dokter itu langsung mencelos. “Kita harus hentikan perdarahannya sekarang.”

Di tengah kepanikan itu, jemari Jasmine bergerak lemah. Kelopak matanya perlahan terbuka.

“Bu Jasmine? Anda dengar saya?” tanya dokter.

Napas Jasmine tersengal. Pandangannya buram.” “Bayi saya…” lirihnya pelan sambil memegangi perut.

“Kami sedang berusaha menyelamatkan Anda dan bayi Anda.”

Air mata Jasmine mengalir. Dengan sisa tenaganya, ia menggeleng lemah. “Bayi saya dulu …,” suaranya hampir hilang.

Perutnya masih terasa nyeri. Namun, tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak atau sekedar meringis.

“Tolong … selamatkan bayi saya .…”

“Bu, jangan bicara dulu ….”

“Tolong ….” Monitor di sampingnya tiba-tiba berbunyi lebih cepat. Kesadarannya kembali menghilang.

“Dok, tekanannya turun lagi!”

“Bawa ke ruang operasi sekarang!” titah dokter.

Pintu IGD terbuka bersamaan dengan langkah Lintang yang datang dengan napas terengah-engah.

Lelaki itu segera menuju rumah sakit setelah menerima telepon dari pihak rumah sakit. Jantungnya rasanya mau lepas, menerima kabar yang sangat mengejutkan.

“Bagaimana istri saya, Dok?”

Dokter langsung menghampiri. “Kondisinya kritis, Pak. Kami sedang berusaha menyelamatkan ibu dan bayinya.”

Lintang menggeleng. “Selamatkan mereka. Tolong … saya mohon …”

“Kami akan berusaha, Pak,” kata dokter. “Tadi istri Anda sempat sadar,” lanjutnya.

“Dia meminta kami memprioritaskan bayinya jika terjadi sesuatu,” tambah dokter. Tubuh Lintang seperti ditimpa batu besar mendengarnya.

“Dok, tolong …,” suaranya serak. “Saya mau keduanya selamat.” sudut mata lelaki itu memanas.

Lihat selengkapnya