Lorong rumah sakit terasa sunyi dan dingin. Lintang berdiri di depan kaca bulat ruang NICU, melihat putranya berjuang di dalam sana.
Tampak bayi itu terbaring lemah di dalam inkubator, dengan selang-selang yang terpasang di tubuhnya.
Diperhatikannya, dada itu naik turun pelan dibantu alat pernapasan. Mata Lintang berkaca-kaca. Hatinya teriris melihat pemandangan itu. Perihnya menjalar ke seluruh tubuh.
“Anakku …,” ucapnya lirih. Tangannya bergetar, menempel pada kaca seolah menyentuh si bayi.
Embun yang berada di samping Lintang hanya terdiam. Dia tidak tau harus apa. Matanya ikut menatap bayi merah di dalam. Hatinya terenyuh.
Ingin rasanya dia membenci bayi itu, tetapi tidak bisa. Bayi itu tidak berdosa, dia tidak berkhianat, meski kehadirannya lahir dari sebuah pengkhianatan.
“Kasihan sekali kamu, nak,” batin Embun. Sebuah bulir bening mengalir begitu saja di pipi, Embun cepat-cepat menghapusnya sebelum Lintang menyadarinya.
“Meski tante membenci ibumu, tapi tante tidak ingin hal ini terjadi padamu,” batinnya lagi.
Untuk pertama kalinya, Embun menyaksikan lelaki itu benar-benar hancur. Untuk pertama kali pula dia melihat kesedihan dan penyesalan Lintang sedalam itu.
Embun tersenyum tipis, sangat tipis dan nyaris tidak terlihat. Dadanya sesak, menyadari satu hal jika selama ini dirinya tidak benar-benar diperjuangkan. Tidak ada air mata sehancur ini saat dirinya terluka.
Entahlah, hatinya bergejolak. Perasaannya campur aduk, sulit dijelaskan. Embun terperanjat ketika lelaki itu tiba-tiba memeluk tubuhnya dan terisak di pundaknya.
Dia menegang, rasanya setiap inci dari tubuhnya menolak sentuhan lelaki itu. Namun, Embun sadar ini bukan waktunya untuk memberontak. Perlahan, tangannya terangkat, meski terasa berat dia membalas pelukan itu.
“Jasmine pergi,” ucapnya dengan suara serak.
Embun membisu, membiarkan lelaki itu menangis di pelukannya. Meski perasaannya remuk mendengarnya.
“Aku belum sempat membahagiakannya … aku banyak dosa padanya.” Bahu Lintang bergetar. Embun memejamkan mata, meresapi rasa sakit yang menjalar.
“A-aku belum bisa jadi suami yang baik untuknya …,” ucapnya penuh penyesalan. Tanpa sadar kalimatnya menghunjam hati Embun lebih dalam lagi.
Tangan Embun bergetar, dadanya sesak, seolah pasokan oksigen menipis. Lagi-lagi, dalam pelukannya sendiri dia menjadi orang yang tidak dipilih.
Sudut matanya memanas. Tangisan Lintang terdengar begitu tulus, begitu hancur. Embun jadi menyadari satu hal yang paling menyakitkan, suaminya benar-benar mencintai Jasmine. Bukan dirinya.
Rahangnya mengeras, dia ingin mendorong tubuh Lingang menjauh. Namun, tenaganya seakan hilang. Yang tersisa hanya rasa lelah dan sesak yang memenuhi dada.
“Ya, Tuhan ….,” batin Embun. Cairan di sudut matanya semakin mendesak ingin segera tumpah.