Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #85

Bab 85 | Kamu Sangat Mencintainya

Setelah pemakaman selesai, satu persatu para pelayat pergi, meninggalkan Lintang yang membeku di samping pusara sang istri

Matanya menatap lekat pada gundukan tanah yang ditaburi bunga itu, seakan masih belum percaya itu benar-benar terjadi.

Di sisi lelaki itu berharap jika ini hanyalah mimpi buruk dan seseorang segera membangunkannya. Namun, rasa hancur terlalu nyata untuk disebut mimpi.

“Nak …,” Bu Inggrid menyentuh pundak Lintang. Pria itu bergeming. “Ayo pulang, sebentar lagi mau hujan,” lanjutnya.

Lelaki itu tidak langsung menjawab, rahangnya mengeras. Mata itu kembali memerah.

“Jasmine sendirian di sini.” Kalimat itu membuat suasana kembali sesak. Bu Inggrid menutup mulutnya karena air mata hendak menerobos.

“Jasmine pasti kesepian,” kata Lintang meracau. Bu inggrid semakin tidak kuasa menahan tangisnya.

“Bagaimana kalau dia kedinginan?” lanjutnya pilu. Bu Inggrid menatap sayu melihat keadaan anaknya saat ini.

“Nak ….” suara Bu Inggrid bergetar.

“Lintang masih mau di sini,” katanya pelan. Bu Inggrid terdiam.

“Lintang mau berdua dulu dengan Jasmine,” ucapnya sekali lagi.

Mendengar itu, Bu Inggrid akhirnya mengalah, dia mulai melangkah meninggalkan area pemakaman. Sebelum benar-benar pergi, dia menoleh sekali lagi pada Lintang.

“Ya, Tuhan …,” batin Bu Inggrid. Hatinya perih.

Sementara itu, Embun menyaksikan semuanya dari balik sebuah pohon yang tidak jauh dari pusara Jasmine.

Tadi dia sempat melangkah mengikuti para pelayat pergi meninggalkan area pemakaman, tetapi langkahnya terhenti tidak jauh dari sana.

Entah Mengapa, dia tidak benar-benar ingin pergi. Sejak tadi dia juga tidak banyak bicara. Dia hanya diam, memperhatikan semuanya dari balik pohon.

“Sayang … mengapa kamu tinggalin, Mas,” kata Lintang lirih. “Mana janji kamu, kita akan menua bersama.” Dia menangis tersedu-sedan, sembari sebelah tangannya memegang batu nisan.

“Mana janji kita akan besarkan anak kita, mana sayang …?” Lintang bicara seolah-olah Jasmine dapat mendengarnya.

“Mas tidak tahu bagaimana menjalani kehidupan ini tanpa kamu.”

Mata Embun menatap lekat pada sosok yang masih betah di samping gundukan tanah merah itu. Dia meremas ujung kerudungnya kuat-kuat hingga tangannya bergetar pelan.

“Kamu benar-benar mencintai Jasmine, Mas,” ucap Embun lirih. Dia tersenyum tipis menekan perih di dada.

Bulir-bulir bening mulai turun dari langit, membasahi tanah. Tak terkecuali Embun merasakan tetesan dingin menyentuh kulitnya. Dilihatnya lelaki itu tidak beranjak, meski hujan mulai mengguyur tubuhnya.

Hujan perlahan deras, tubuh Embun pun mulai basah, dia segera melangkah meninggalkan area pemakaman.

Lihat selengkapnya