Lintang kembali mengunjungi rumah sakit sebelum berangkat ke kantor. Beberapa hari terakhir ini, dia selalu menyempatkan melihat keadaan Bintang terlebih dahulu.
Lintang berdiri cukup lama menatap dari balik kaca. Diperhatikannya dada itu masih bergerak, naik turun pelan. Banyak alat yang menempel padanya.
Sebuah ketakutan tiba-tiba merasuk ke dalam hatinya, bayi itu akan pergi menyusul Jasmine. Membayangkannya saja hatinya perih.
Segera dia menggelengkan kepala pelan mengusir bayangan itu. Dia kembali menatap Bintang.
“Sayang … apapun yang terjadi jangan tinggalkan papa,” ucap Lintang lirih. “Papa sayang Bintang,” lanjutnya pedih.
Setelah itu Lintang berangkat ke kantor. Namun, pikirannya melayang entah ke mana.
Sepanjang rapat, beberapa Lintang dia kehilangan fokus. Matanya terasa berat karena kurang tidur. Kepalanya pun sesekali berdenyut.
Setelah rapat selesai, Lintang menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja. Dia mengusap wajah kasar.
Tubuhnya terasa sangat lelah, seolah habis dipukuli. Hampir semalaman pula dia tidak bisa tidur.
Kamar itu kini begitu sunyi. Tidak ada lagi suara yang menyambut kepulangannya, tidak ada lagi seseorang yang menunggunya sebelum tidur, dan tidak ada lagi kehangatan yang selama ini selalu ada tanpa ia sadari.
Semua itu telah hilang. Dan kini, dia merindukan hal yang dulu dianggap biasa, bahkan terkadang terasa mengganggu.
Dan dia sadar, sunyi itu jauh lebih menyakitkan dibanding rengekan yang dulu terkadang membuatnya merasa lelah.
Beberapa hari terakhir, hidupnya hanya berputar antara rumah sakit, rumah, dan pekerjaan.
Tatapannya tertuju pada ponsel yang tergeletak di atas meja. Nama Embun tiba-tiba muncul di pikirannya.
Dia harus menemuinya, ada banyak hal yang ingin dibicarakan. Tentang Bintang, tentang masa depan mereka dan tentang kehidupan yang harus tetap berjalan, meski Jasmine telah tiada.
Lintang meraih ponsel dan menyalakannya. Namun, tak lama kemudian, ia meletakkannya kembali. Niatnya untuk menghubungi Embun diurungkan. Dia memutuskan datang saja saat makan malam nanti. Lagi pula, sudah pasti wanita itu ada di rumah.
Lintang kemudian meminta Revan mengantarkannya pulang. Tidak mungkin dia menyetir dalam keadaan seperti itu.
Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, terlebih kini ada Bintang dalam hidupnya. Kali ini, keselamatannya bukan lagi hanya tentang dirinya sendiri.
“Sudah pulang, Nak?” kata Bu Inggrid saat Lintang masuk ke dalam rumah.
“Iya, Ma. Lintang capek sekali, mau istirahat,. jawabnya lalu melesat naik ke lantai dua.
Bu inggrid hanya menatap punggung Lintang hingga menghilang. Baru kali ini dia melihat putranya yang pekerja keras sangat kelelahan seperti itu.
Lintang selesai membersihkan diri, lalu merebahkan diri di atas kasur berharap dapat tidur nyenyak kali ini.