"Tolong … beri aku kesempatan sekali lagi, Embun?" pinta Lintang, tangannya meraih jemari Embun dan menggenggamnya.
Kepalanya mendongak menatap wajah Embun yang memandang ke arah lain.
"Maaf, Mas. Aku tidak bisa."
"Embun ... Aku mohon ...., " tambahnya. "Pikiran Bintang, dia baru saja kehilangan ibu kandungnya, sekarang kau juga ingin meninggalkannya?" tambahnya.
Tanpa sadar kalimat itu hanya menambah luka hati, menegaskan jika dia hanyalah seorang pengganti pengganti.
"Kita akan besarkan Bintang sama-sama,” Rayunya. Dia tahu Embun sangat mendambakan seorang anak.
“Dia juga anakmu, Embun,” tambahnya berharap Embun luluh.
Embun tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. Dari dulu lelaki itu tidak pernah sadar, setiap kata, setiap keputusan yang diambilnya seperti pisau yang selalu merobek hatinya.
Embun mengembus napas berat. "Keputusanku tetap sama, Mas. Aku yakin kelak kau bisa mendapatkan ibu yang lebih baik untuk Bintang.”
Genggaman tangan Lintang perlahan lepas, seperti harapannya. Kepalanya tertunduk ke lantai, menatap kosong.
Hening menyelimuti kamar itu. Baik Embun dan Lintang sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Embun … tolong kasihani, Bintang,” Lintang memohon sembari menatap Embun yang masih di posisi yang sama.
Kamu boleh membenciku, tapi tolong berbaik hatilah sedikit padanya,” tambahnya, berharap hati Embun tergerak.
Bayangan Bintang yang lemah di dalam inkubator muncul begitu saja di pelupuk mata. Wajah polos itu, denyutan napasnya yang pelan, serta alat-alat yang menempel pada tubuhnya membuat hati Embun terasa sakit. Merasa jahat untuk meninggalkannya.
Namun, jika ingat bagaimana luka demi luka yang diterimanya demi kehadiran bayi mungil itu, hatinya jauh lebih sakit.
Bukan dia membenci bayi itu, tetapi rasanya dia tidak sanggup merawat dan membesarkan buah dari lukanya. Dia juga tidak ingin terus berada dalam kubangan luka seumur hidup.
“Aku tidak ingin menjadi orang baik, cukup jadi orang yang tidak tersakiti saja,” kata Embun.
Kalimat itu meruntuhkan harapan terakhir Lintang. Kali ini tidak ada lagi maaf, tidak ada lagi kesempatan.
Lelaki itu terdiam, dadanya sesak, matanya mulai memanas. Tidak ada lagi yang bisa dia katakan untuk mengubah keputusan Embun. Pada akhirnya dia benar-benar kehilangan wanita itu.
Waktu terus berjalan, membawa banyak perubahan dalam kehidupan Embun. Luka-luka yang dulu terasa begitu menyakitkan perlahan memudar, meski tidak pernah benar-benar hilang.
Kini hidupnya jauh lebih baik. Hari-harinya dipenuhi tawa dan celoteh anak-anak yang diasuhnya.
Mereka hadir tanpa ikatan darah, tetapi mampu mengisi ruang-ruang kosong di hatinya yang pernah hancur. Setiap pelukan kecil, setiap panggilan "Ibu" dan setiap senyum polos yang mereka berikan menjadi alasan baginya untuk kembali bangkit dan melanjutkan hidup.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Embun bisa mengatakan bahwa dirinya bahagia.
Sementara itu, Jenar akhirnya menerima hukuman atas segala perbuatannya. Pengadilan menjatuhkan vonis lima belas tahun penjara kepadanya.
Tentu saja, hukuman itu tidak mampu mengembalikan apa yang telah hilang. Tidak bisa menghapus luka, tidak bisa memutar waktu, dan tidak bisa mengembalikan kehidupan yang telah direnggut.
Namun setidaknya, keadilan telah menemukan jalannya. Setidaknya, ada pertanggungjawaban atas semua penderitaan yang pernah dia rasakan.
Dan bagi Embun, itu cukup untuk membuat hatinya sedikit lebih tenang saat menatap masa depan.
Siang itu, Embun memesan banyak kue di tokonya sendiri. Sudah lama dia tidak menengok usaha itu secara langsung.
Selama bertahun-tahun, pengelolaannya dipercayakan kepada orang kepercayaannya, sementara dia lebih banyak mengurus kegiatan yang lain.
"Ibu apa kabarnya? sudah lama sekali tidak ke sini," kata Lily.
Embun tersenyum. "Alhamdulillah, kabar Ibu baik. Maaf ya, sudah lama tidak berkunjung."
"Kami rindu loh, Bu,” timpal rekan Lily.
"Ibu juga rindu kalian. Senang lihat toko ini masih ramai seperti dulu.”
“Iya, Bu, Alhamdulillah.
Tiba-tiba pintu terbuka, Embun menoleh dan mendapati mantan suaminya bersama seorang anak yang sudah mulai besar. Dia yakin anak itu adalah Bintang.