Hujan bukan sekadar air di dunia ini. Bagi Ken Kirito, tetesan hujan yang jatuh membasahi wajahnya terasa berat, seolah-olah udara itu sendiri menolak keberadaannya.Dia terbangun dengan rasa sakit yang menusuk setiap saraf di tubuhnya. Bukan rasa sakit akibat luka tusukan kunai atau ledakan tag peledak yang biasa dia rasakan dalam misi ANBU, melainkan rasa sakit yang asing—seolah-olah sel-sel tubuhnya sedang berteriak karena kekurangan sesuatu yang vital. Ken membuka matanya, namun yang dia lihat bukanlah langit malam Yondaime yang familiar, melainkan kubah langit berwarna ungu pucat dengan dua bulan yang menggantung rendah, satu berwarna perak dan satunya lagi merah darah.
"Aku... masih hidup?" gumamnya, suaranya serak.
Ken mencoba duduk, tetapi otot-ototnya menjerit protes. Dia melihat sekeliling. Dia berada di tengah hutan lebat, namun pohon-pohon di sini tidak berwarna hijau. Daun-daunnya berwarna biru keperakan, dan batangnya bersinar redup dengan urat-urat cahaya seperti sirkuit hidup. Ini bukan negeri api. Ini bukan negeri manapun yang pernah dia petaikan dalam atlas shinobi.
Tiba-tiba, dadanya sesak. Ken meletakkan tangannya di atas perutnya, mencoba mengumpulkan chakra. Biasanya, aliran energi hangat itu akan segera merespons panggilannya, mengalir dari titik-titik tenketsu di seluruh tubuhnya. Namun kali ini, hampa. Tidak ada aliran. Tidak ada panas. Hanya kehampaan yang dingin dan menakutkan.
"Panik adalah musuh terbesar seorang shinobi," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menenangkan napas yang memburu. "Analisis situasi. Lokasi tidak dikenal. Chakra tidak merespons. Luka fisik: ringan hingga sedang. Ancaman langsung: belum terlihat."
Sebelum dia bisa bangkit sepenuhnya, semak-semak di depannya bergetar. Ken secara instingtif meraih pinggangnya untuk mengambil kunai, tetapi sarungnya kosong. Senjata-senjatanya hilang saat dia terlempar melalui dimensi itu.
Dari balik semak belukar, muncul sosok wanita. Dia mengenakan jubah panjang berwarna putih bersih dengan bordiran benang emas yang rumit di ujung lengan. Rambutnya berwarna perak panjang, terurai hingga pinggang, dan matanya berwarna violet yang tajam namun menyimpan kehangatan. Di tangannya, dia memegang tongkat kayu yang ujungnya berlian kristal biru, memancarkan cahaya lembut yang menerangi kegelapan hutan.
Wanita itu berhenti beberapa meter dari Ken, matanya melebar sedikit saat melihat pria berbaju compang-camping dengan tanda luka bakar di pipinya itu.
"Kau bukan dari sini," kata wanita itu.