Kediaman Elina Catania bukan sekadar rumah; itu adalah perpanjangan dari jiwanya. Terletak di tepi distrik akademis La Frontiers, bangunan batu putih itu dikelilingi oleh taman bunga kristal yang bergetar halus setiap kali angin berhembus. Bagi Ken Kirito, yang terbiasa dengan atap-atap genteng kokoh dan hutan bambu yang sunyi, tempat ini terasa seperti mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata.
Ken duduk bersila di atas tatami empuk di ruang tengah, tubuhnya masih dibalut perban sihir yang bercahaya redup. Tiga hari telah berlalu sejak dia ditemukan di Hutan Aetheria. Luka-lukanya hampir sepenuhnya pulih, berkat keahlian penyembuhan Elina yang luar biasa, namun ada satu hal yang belum sembuh: kebingungannya.
Elina masuk ke ruangan sambil membawa nampan kayu dengan dua cangkir teh yang mengepul. Uap dari teh itu membentuk pola-pola rumit sebelum menghilang, sebuah trik sihir kecil yang tampaknya dilakukan Elina tanpa sadar.
"Kau terlihat gelisah, Ken," kata Elina, meletakkan nampan di meja rendah di depan Ken. Dia duduk di hadapannya, melipat kakinya dengan anggun di bawah jubah birunya. "Apakah tehnya tidak sesuai selera? Itu daun *Moonleaf*, dikenal bisa menenangkan jiwa."
Ken mengambil cangkirnya, menghirup aromanya yang manis dan sejuk.
"Tehnya enak. Terima kasih, Elina-sensei."
Elina mengangkat alisnya, tersenyum geli. "Sensei? Kau memanggilku begitu seolah-olah aku sedang menginterogasimu. Panggil saja Elina. Di sini, kita bukan musuh."Ken menunduk, menyembunyikan senyum tipis. Kebiasaannya sebagai shinobi membuat dia sulit menurunkan gardanya. "Maaf. Kebiasaan lama. Di negeriku, menghormati guru adalah hukum pertama."
"Guru..." Elina termenung sejenak, matanya yang berwarna violet menatap Ken dengan intensitas analitis. "Kau bilang kau berasal dari tempat di mana orang-orang menggunakan 'Chakra'. Bisakah kau menjelaskannya lagi? Aku sudah membaca semua arsip Akademi tentang sistem energi alternatif, tapi deskripsimu... itu tidak cocok dengan teori manapun."
Ken meletakkan cangkirnya. Dia menutup mata, mencoba mengakses kembali memori tentang aliran chakra. "Chakra adalah energi fisik dan spiritual yang digabungkan. Kami memutarnya di dalam tubuh, memaksanya keluar melalui titik-titik tertentu untuk menciptakan elemen atau ilusi. Itu soal kontrol, disiplin, dan paksaan terhadap alam."
Dia membuka matanya dan menatap telapak tangannya. "Di sini... Mana terasa berbeda. Ia tidak dipaksa. Ia... mengalir. Seperti air yang mencari jalannya sendiri. Saat kau menyembuhkanku, aku tidak merasakan dorongan energimu. Aku merasakan undangan."
Elina tertegun. Deskripsi Ken sangat puitis, namun secara teknis akurat bagi para penyihir tingkat tinggi. "Undangan," ulangnya pelan. "Itu cara pandang yang menarik. Kebanyakan penyihir pemula berusaha *mengambil* mana dari atmosfer, yang sering menyebabkan kelelahan mental. Tapi penyihir master belajar *berharmoni* dengannya."Dia bangkit dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman. "Mau coba? Merasakan Mana?"
Ken ikut berdiri, meski langkahnya masih sedikit kaku. "Aku sudah mencoba. Tubuhku terasa kosong. Seperti wadah yang bocor."
"Karena kau mencoba memutar energi di dalam, bukan membiarkannya masuk," kata Elina. Dia berbalik dan menatap Ken. "Berdirilah di sini. Tutup matamu. Jangan mencoba mengendalikan apapun. Lepaskan kendalimu."Ken ragu. Melepaskan kendali adalah hal terakhir yang diajarkan di akademi shinobi. Seorang ninja yang kehilangan kendali adalah ninja yang mati. Tapi dia mempercayai Elina. Dia menutup matanya.
"Ambil napas dalam," instruksi Elina, suaranya kini lebih lembut, hampir seperti bisikan. "Rasakan detak jantungmu. Bukan sebagai pompa darah, tapi sebagai ritme. Sekarang, rasakan udara di sekitarmu. Jangan tarik ia ke dalam paru-parumu. Biarkan ia menyentuh kulitmu. Biarkan ia masuk melalui pori-porimu."
Ken mengikuti instruksinya. Awalnya, tidak ada apa-apa. Hanya keheningan. Lalu, perlahan, dia merasakan sesuatu. Bukan panas chakra, tapi sensasi dingin yang menyegarkan, seperti embun pagi. Sensasi itu menyentuh kulitnya, meresap, dan berdengung halus di telinganya.
"Itu..." gumam Ken.