MAGIC SHINOBI

Ahmad Roki Fadhil
Chapter #3

Ujian La Frontiers dan Tawaran Tak Terduga #3

Pagi di Akademi Sihir La Frontiers terasa berbeda dari pagi di Yondaime. Di Yondaime, matahari terbit dengan warna oranye kemerahan, menandakan dimulainya hari pelatihan yang keras. Di sini, matahari—atau lebih tepatnya, sumber cahaya utama di langit Aetheria—muncul dengan gradasi ungu dan emas, menyinari menara-menara batu putih yang menjulang tinggi seperti jari-jari raksasa yang menyentuh awan.

Ken Kirito berdiri di gerbang utama akademi, mengenakan pakaian sederhana yang dipinjamkan Elina: kemeja linen putih longgar dan celana panjang berwarna cokelat tanah. Dia merasa aneh tanpa seragam shinobinya, tanpa pelindung dahi logam, dan tanpa senjata tersembunyi di saku. Namun, dia tidak merasa telanjang. Dia merasa... diamati.

Ratusan siswa penyihir lalu lalang di halaman akademi, sebagian besar mengenakan jubah dengan warna-warna cerah yang menandakan elemen afinitas mereka: merah untuk api, biru untuk air, hijau untuk angin, dan kuning untuk tanah. Saat Ken melangkah masuk, kerumunan itu terhenti sejenak. Bisik-bisik menyebar seperti api liar.

"Itu dia..."


"Pria tanpa aura mana..."


"Dia terlihat biasa saja. Tidak ada kristal sihir, tidak ada tongkat."


"Elina-sensei membawanya ke sini? Apa Kepala Akademi sudah gila?"

Ken mengabaikan tatapan-tatapan itu. Matanya yang tajam memindai lingkungan dengan cepat, mencatat titik-titik strategis, exit, dan potensi ancaman. Ini adalah kebiasaan seorang shinobi: situational awareness.

"Jangan pedulikan mereka," kata suara lembut di sampingnya. Elina Catania berjalan di sisi Ken, posturnya tegak dan penuh wibawa. Jubah gurunya yang berwarna putih bersih dengan aksen emas membuat para siswa segera membungkuk hormat saat dia lewat. "Mereka hanya penasaran. Dan sedikit takut pada hal yang tidak mereka pahami."

"Aku terbiasa menjadi orang asing," jawab Ken datar. "Tapi aku menghargai dukungannya, Elina."Mereka berjalan menuju gedung utama, sebuah struktur megah dengan kubah besar yang berkilauan seperti berlian. Di ujung aula utama, duduk di atas takhta batu yang dikelilingi oleh buku-buku melayang, adalah seorang pria tua dengan jenggot putih panjang dan mata yang tajam meskipun usianya sudah senja. Itu adalah Archmage Valerius, Kepala Akademi La Frontiers.

Di sisi kanan dan kiri Valerius, berdiri dua sosok lain. Satu adalah wanita paruh baya dengan wajah ketat dan jubah abu-abu polos—Representatif Asosiasi Penyihir. Yang lainnya adalah pria bertubuh kekar dengan bekas luka di wajah, memegang tongkat besi berat—Instruktur Pertahanan Fisik.

"Ken Kirito," suara Valerius bergema di aula yang luas, meski dia tidak berteriak. "Selamat datang di La Frontiers. Elina telah melaporkan banyak hal menarik tentangmu. Seorang pria dari dunia lain, tanpa garis keturunan sihir, namun mampu bertahan hidup di Hutan Aetheria."Ken membungkuk sopan, gestur hormat standar. "Terima kasih atas penerimaan Anda, Archmage Valerius."

Wanita berjubah abu-abu, yang diperkenalkan sebagai Magister Grelda dari Asosiasi Penyihir, menyipitkan matanya. "Penerimaan? Valerius, kita belum memutuskan apapun. Pria ini adalah anomali. Asosiasi khawatir keberadaan 'energi asing' ini dapat mengganggu keseimbangan Mana di wilayah kita. Kami menuntut pengusiran atau penahanan untuk investigasi lebih lanjut."

Suara Grelda dingin dan penuh tuduhan. Beberapa siswa di belakang Ken gemetar mendengar kata 'penahanan'. Valerius mengangkat tangan, menenangkan suasana. "Tenang, Magister Grelda. Kita bukan barbar. Sebelum kita mengambil keputusan drastis, kita harus memahami apa yang dimiliki pemuda ini. Instruktur Goran," dia menoleh pada pria bertubuh kekar, "Apakah kamu siap?"

Goran tertawa kasar, memutar-mutar tongkat besinya. "Siap, Kepala Akademi. Aku akan menunjukkan pada 'shinobi' ini bahwa otot tanpa sihir hanyalah daging lunak di dunia penyihir."

Ken menatap Goran. Dia tidak merasakan niat membunuh, tapi ada arogansi yang kuat. "Apa ujiannya?" tanya Ken.

"Sederhana," kata Valerius. "Bertahan selama tiga menit terhadap serangan Instruktur Goran. Jika kau bisa menghindari atau menetralkan serangannya tanpa menggunakan sihir ofensif (karena kau tidak punya), kami akan mempertimbangkan tawaran khusus untukmu. Jika kau kalah... kau akan diserahkan pada Asosiasi untuk diinterogasi."

Elina menegangkan tubuhnya. "Valerius, ini tidak adil! Goran adalah master Earth Bind dan Stone Fist. Ken belum sepenuhnya pulih!"

"Elina," potong Valerius lembut. "Kepercayaanmu padanya harus diuji. Dan kepercayaan Asosiasi juga. Ini jalan tengah terbaik."

Ken menatap Elina, lalu mengangguk perlahan. "Aku terima tantangannya."Mereka berpindah ke arena latihan terbuka di belakang akademi. Arena itu berbentuk lingkaran besar dengan lantai batu yang dilapisi rune pelindung. Ratusan siswa berkumpul di tribun, termasuk Elina yang berdiri di pinggir arena dengan wajah cemas.

Lihat selengkapnya