MAGIC SHINOBI

Ahmad Roki Fadhil
Chapter #5

Tarian Segel dan Bisikan Kucing Oranye #5

Cahaya matahari pagi menembus jendela-jendela tinggi Ruang Latihan Utama Akademi La Frontiers, menciptakan pilar-pilar cahaya debu yang menari di udara. Namun, hari ini, ruangan itu tidak hening seperti biasa. Suara gemuruh antusias memenuhi setiap sudut, bukan berasal dari ledakan sihir, melainkan dari tepuk tangan dan decak kagum dua puluh siswa kelas 3-B, ditambah puluhan siswa dari kelas lain yang memadati lorong-lorong kaca di sekeliling arena latihan.

Ken Kirito berdiri di tengah lingkaran, napasnya teratur, keringat dingin membasahi pelipisnya. Di hadapannya, Darius Vance dan Mira berdiri bersiap, namun kali ini mereka tidak memegang tongkat sihir. Tangan mereka kosong, jari-jari mereka bergerak cepat membentuk pola-pola rumit.

"Kai," ucap Ken tegas.

Seketika, ilusi ruang latihan yang tadinya tampak seperti hutan lebat dengan monster bayangan menghilang. Darius dan Mira tersentak, menyadari bahwa selama lima menit terakhir, mereka hanya berdiri diam di tengah ruangan kosong, berkeringat karena ketakutan akan ancaman yang tidak nyata.

"Itu... itu Genjutsu?" tanya Darius, matanya masih lebar karena sisa adrenalin. "Aku bersumpah aku melihat naga tanah menyerangku. Aku bahkan bisa mencium bau belerangnya!"

Ken mengangguk, tersenyum tipis. "Genjutsu adalah seni memanipulasi aliran chakra—atau dalam kasus kalian, Mana—di dalam tubuh lawan untuk mengganggu indra mereka. Bukan ilusi optik biasa seperti Illusio, tapi serangan langsung ke sistem saraf. Kunci utamanya bukan pada kekuatan, tapi pada ketepatan waktu dan kontrol halus."

Mira mengangkat tangannya, jari-jarinya masih bergetar sedikit. "Sensei, segel tangan untuk Kai (pelepasan) tadi... rasanya seperti memutus kabel yang tegang. Apakah ini yang dimaksud dengan 'mengganggu aliran'?"

"Tepat sekali," puji Ken. Ia berjalan mengelilingi murid-muridnya. "Di dunia shinobi, kami menggunakan sembilan segel dasar Kuji-in sebagai fondasi. Tapi Genjutsu membutuhkan variasi yang lebih kompleks. Hari ini, kita akan belajar segel Tiger dan Boar. Kombinasi ini akan membantu kalian memfokuskan Mana ke mata lawan saat kalian melakukan kontak visual."

Para siswa dengan semangat meniru gerakan Ken. Awalnya canggung, jari-jari mereka sering salah posisi, tetapi bimbingan Ken yang detail—mengoreksi sudut siku, tekanan jari, dan ritme napas—membuat mereka progres dengan cepat. Yang menarik, beberapa guru penyihir senior, termasuk Profesor Alchemy yang biasanya skeptis, kini berdiri di ambang pintu, mencatat dengan serius. Mereka menyadari bahwa teknik ini tidak memerlukan banyak Mana, membuatnya efisien untuk pertarungan jangka panjang.

"Bagus! Sekarang, coba pasangkan dengan Taijutsu dasar," instruksi Ken. "Saat lawan terganggu oleh Genjutsu ringan, serang dengan kecepatan. Jangan beri mereka waktu untuk break ilusinya."

Darius mencoba. Dia membentuk segel Tiger, menatap Mira, dan mengalirkan sedikit Mana ke matanya. Mira terhenti sejenak, bingung. Dalam celah detik itu, Darius meluncur maju dengan tendangan rendah yang cepat. Mira, yang refleksnya sudah terlatih oleh Ken selama seminggu terakhir, berhasil melompat mundur, namun tetap terpental karena gaya dorong Darius.

"Luar biasa!" seru seorang siswa dari kelas sebelah yang menonton dari lorong. "Bisa aku mencoba? Sensei Ken, bisakah aku belajar segel itu?"

Ken tertawa kecil. "Antrian sudah panjang, teman-teman. Tapi ingat, ini bukan trik sirkus. Ini adalah disiplin militer. Jika kalian ingin belajar, kalian harus siap berkeringat, bukan hanya membaca mantra."

Antusiasme itu menular. Dalam satu jam, aula latihan penuh dengan siswa dari berbagai afinitas elemen yang berlatih segel tangan. Suara "Rin! Pyo! Toh!" bergema, menciptakan irame aneh namun harmonis di akademi yang biasanya sunyi dan formal.

Saat jam istirahat tiba, Ken duduk di bangku taman belakang akademi, menikmati angin sepoi-sepoi. Dia merasa lelah, namun puas. Metode shinobinya diterima.

Tiba-tiba, sebuah bola oranye melompat dari semak-semak dan mendarat tepat di pangkuan Ken.

"Meong! Akhirnya selesai juga sesi latihanmu, Tuan Ninja. Aku hampir bosan mati menunggu di pohon itu."

Lihat selengkapnya