Nama Yondaime bergema dalam mimpi Ken Kirito setiap malam. Bukan sebagai desa yang hancur, melainkan sebagai rumah yang hilang—negeri di mana angin berbisik melalui daun-daun emas dan disiplin adalah bahasa cinta. Di Aetheria, Ken belajar bahwa meski ia tidak bisa kembali ke Yondaime secara fisik, semangat shinobinya bisa hidup dalam bentuk baru. Dan hari itu, semangat itu diuji bukan oleh monster, melainkan oleh intrik manusia.
Pagi itu, Aula Latihan Utama Akademi La Frontiers dipenuhi siswa dari berbagai tingkat. Persiapan Festival Akademi Sihir Antar-Negeri sudah di ambang pintu. Spanduk-spanduk berwarna-warni tergantung dari langit-langit, dan aroma makanan dari kantin bercampur dengan bau ozon dari latihan sihir.
Ken berdiri di tengah arena, mengawasi murid-muridnya. Hari ini, kurikulumnya berbeda. Ia tidak hanya mengajarkan Taijutsu atau Genjutsu.
"Dengar baik-baik," suara Ken tegas, memotong kebisingan ruangan. "Sihir di Aetheria adalah seni. Tongkat sihir kalian bukan sekadar tongkat kayu; ia adalah konduktor jiwa kalian. Jangan pernah meremehkannya."
Dia mengambil sebuah tongkat sihir standar dari rak. "Banyak dari kalian berpikir metode shinobi menggantikan sihir. Itu Pemikiran yang salah. Metode shinobi bertujuan melengkapi sihir. Lihat ini."
Ken mengayunkan tongkat itu. Alih-alih mantra panjang, dia menggunakan gerakan cepat Kuji-in dengan tangan kirinya sambil menyalurkan Mana melalui tongkat di tangan kanannya.
"Fulgoris Acceleratio!" seru Ken.
Petir biru meledak dari ujung tongkat, namun tidak liar. Petir itu berbentuk seperti shuriken raksasa yang berputar, stabil dan terkendali, sebelum menghilang dengan lembut.
Murid-murid terdiam kagum.
"Itu adalah Chakra-Enhanced Casting," jelas Ken. "Saya menggunakan disiplin fokus shinobi untuk menstabilkan aliran Mana yang biasanya fluktuatif. Hasilnya? Sihir yang lebih cepat, lebih tajam, dan lebih hemat energi. Ingat, tradisi sihir Aetheria indah. Jangan buang itu. Tapi buatlah ia lebih mematikan dengan disiplin tubuh."
Mira, murid berbakatnya, mencatat dengan cepat. "Jadi, tongkat tetap penting untuk amplifikasi, tapi segel tangan untuk kontrol?"
"Tepat," kata Ken. "Keseimbangan tersebut seperti Yin dan Yang."
Di barisan penonton, Magister Grelda dan Instructor Goran mengamati dengan wajah masam.
"Lihat bagaimana mereka memuja dia," geram Goran. "Dia mencampurkan adat barbar dengan sihir suci kita."
Grelda tersenyum tipis, matanya dingin. "Biarkan. Semakin tinggi dia terbang, semakin sakit jatuhnya. Vakor dan anak buahnya sudah siap. Hari ini, 'kecelakaan' akan terjadi."
Sesi latihan sparring dimulai. Ken memasangkan Darius Vance dengan seorang siswa baru bernama Jaren, yang direkrut secara diam-diam oleh agen Mana Reavers. Jaren tampak gugup, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
"Mulai!" perintah Ken.
Darius, yang kini sudah menghormati Ken, menyerang dengan hati-hati, menggunakan kombinasi segel Tiger untuk ilusi ringan dan tembakan api kecil. Jaren bertahan dengan perisai tanah, namun gerakannya kaku.
Tiba-tiba, Jaren berteriak. "Aaaargh!"