Debu tua dan aroma kertas kering menyambut Ken Kirito saat ia melangkah masuk ke Perpustakaan La Frontiers. Berbeda dengan perpustakaan Akademi yang terang benderang dan steril, La Frontiers terasa seperti rahim pengetahuan kuno—gelap, berliku, dan dipenuhi oleh buku-buku yang seolah-olah bernapas. Rak-rak kayu mahoni menjulang tinggi hingga hilang dalam kegelapan langit-langit, dihubungkan oleh tangga putar besi yang berkarat namun kokoh.
"Selamat datang di jantung memori Aetheria," suara Archmage Valerius bergema lembut dari balik tumpukan naskah kuno. Ia duduk di meja panjang bersama Profesor William Zack, ahli alkimia dengan kacamata tebal yang terus-menerus membersihkan lensanya, dan Renata, sahabat Elina yang kini menjabat sebagai Guru Sihir Elemental tingkat lanjut.
Elina, yang berdiri di samping Ken, menggenggam tangan kekasihnya erat. Ada getaran halus di jari-jarinya, bukan karena takut, tapi karena antisipasi. Di tengah ketegangan politik yang semakin memanas di luar sana, ruang ini menjadi benteng terakhir bagi mereka.
"Ken, Elina," Valerius mengangguk, matanya yang tajam namun bijak menatap pasangan muda itu. "Kami memanggil kalian ke sini bukan hanya untuk riset, tapi untuk strategi. Dunia sihir sedang berada di ambang perpecahan. Anomali yang kalian bawa—teknik Shinobi—adalah kunci, atau mungkin bencana, tergantung bagaimana kita merangkainya."
William Zack mendorong sebuah gulungan perkamen ke arah Ken. "Saya telah mempelajari catatan chakra Anda, Ken. Secara teoritis, chakra adalah bentuk mana yang dipadatkan melalui disiplin fisik dan mental, bukan hanya afinitas elemen. Jika kita bisa menyinkronkan hand seals Anda dengan struktur mantra sihir tradisional, kita mungkin bisa menciptakan hibrida sihir yang belum pernah dilihat dunia ini."
Renata tersenyum miring, matanya berbinar jenaka saat menatap Elina. "Dan tentu saja, kami juga perlu membahas 'masalah pribadi' kalian. Pernikahan di tengah krisis politik? Kalian berdua memang gila, tapi itu jenis kegilaan yang dibutuhkan Aetheria saat ini."
Ken menghela napas, lalu menarik kursi untuk duduk. "Saya tidak menyembunyikan niat kami. Menikah secara tertutup adalah satu-satunya cara untuk melindungi Elina dari faksi-faksi konservatif di Asosiasi yang melihat darah bangsawannya sebagai aset politik, bukan hak pribadi. Selain itu..." Ken menatap Valerius, "...saya menerima tawaran Anda, Archmage. Saya akan menulis karya ilmiah. 'Harmonisasi Ilusi, Seni Bayangan, dan Tubuh Baja dalam Paradigma Sihir Modern'. Saya ingin membuktikan bahwa teknik shinobi bukan ancaman, melainkan evolusi."
Valerius mengangguk puas. "Bagus. Mulai hari ini, kalian punya akses penuh ke bagian Terlarang. Pelajari distorsi ruang-waktu. Pelajari sihir kuno yang mendahului pembentukan Asosiasi. Karena ujian sebenarnya bukan berasal dari buku, tapi dari orang-orang yang memegang kekuasaan."
Seolah menjawab firasat Valerius, pintu besar perpustakaan terbuka dengan dentuman berat. Tiga sosok berpakaian jubah resmi Asosiasi Penyihir Aetheria masuk, dipimpin oleh Gary Fornals, Ketua Asosiasi yang berwajah keras seperti batu granit. Di belakangnya berdiri Juan Jayden, wakil yang licik dengan senyum tipis, dan Veronica Del Monte, wakil wanita yang dingin dan menghitung setiap gerakan Ken.
"Archmage Valerius," sapa Gary tanpa basa-basi, suaranya berat dan otoriter. "Kami tidak mengganggu sesi belajar Anda. Kami di sini untuk mengambil subjek uji coba. Ken Kirito."
Ruangan hening. Elina mengeratkan genggamannya pada lengan Ken.
"Ujian?" tanya Ken tenang, meski otot-ototnya sudah bersiap.
"Asosiasi telah memutuskan," kata Juan Jayden sambil memainkan cincin di jarinya. "Status 'anomali' Anda terlalu berbahaya untuk dibiarkan bebas menjelang Festival Akademi. Kami perlu menilai stabilitas mental dan fisik Anda. Jika Anda gagal... well, Aetheria tidak punya tempat untuk variabel yang tak terkendali."
Veronica Del Monte menambahkan dengan nada datar, "Besok pagi. Arena Uji Coba Pusat. Jangan terlambat, Tuan Kirito. Atau kami akan menganggap Anda menolak kewarganegaraan Aetheria."
Mereka berbalik dan pergi, meninggalkan keheningan yang mencekam. Valerius menghela nafasnya dan mengatakan bahwa ia tidak menyangka Asosiasi Penyihir sudah memutuskan lebih cepat. Ken mengakui bahwa aura ketiga petinggi asosiasi itu cukup besar, namun dia tidak terlalu peduli dengan intimidasi mereka. Malah, ia tidak sabar untuk menerima tantangan mereka dan semakin yakin untuk membuktikan bahwa dirinya bukanlah 'anomali' yang perlu ditakutkan di negeri itu.
Keesokan harinya, sebelum jadwal ujian yang menakutkan itu tiba, Ken memilih untuk menghabiskan waktu terakhirnya dengan para murid Akademi di Hutan Latihan Utara. Udara pagi masih segar, kabut tipis menyelimuti pepohonan raksasa. Para siswa tampak gugup; berita tentang "ujian" Ken telah menyebar cepat, menciptakan atmosfer ketakutan di seluruh kampus.