Langit di atas Aetheria berwarna biru cerah, tanpa satu pun awan yang berani mengganggu kemegahan hari itu. Festival Akademi Sihir bukan sekadar kompetisi; ini adalah pernyataan kekuasaan, prestise, dan masa depan bangsa. Ribuan penonton memadati tribun stadion raksasa yang dibangun dari marmer putih dan diperkuat oleh rune-rune pelindung kuno. Bendera-bendera dari berbagai faksi berkibar, menciptakan lautan warna yang memukau.
Di ruang ganti bawah tanah, suasana terasa tegang namun penuh determinasi. Ken Kirito berdiri di tengah lima murid pilihannya: Darius, pemuda bertubuh kekar dengan semangat baja; Mira, gadis cerdas dengan mata tajam yang selalu menganalisis; Samantha, si rambut hitam yang tenang namun mematikan; Felipe, laki-laki berambut abu-abu terang yang ahli dalam manipulasi elemen angin; dan Brenda, gadis berambut putih whose mana aura-nya begitu murni hingga bisa menenangkan siapa pun di sekitarnya.
"Dengar," kata Ken, suaranya rendah namun tegas, menembus kebisingan dari luar. "Hari ini bukan tentang siapa yang paling kuat secara individual. Ini tentang siapa yang paling tahan banting, paling cepat berpikir, dan paling solid sebagai tim. Asosiasi sedang mengawasi kalian. Dunia sedang mengawasi kalian. Jangan biarkan mereka melihat keraguan."
Darius mengepalkan tinjunya. "Kami siap, Guru Ken. Apa strategi untuk babak pertama?"
"Babak pertama adalah Mind Fortress Trial," jelas Ken, menunjuk diagram mental yang ia proyeksikan melalui ilusi ringan. "Ini adalah ujian ketahanan mental. Kalian akan dimasukkan ke dalam ruang ilusi di mana ketakutan terbesar kalian akan dimanifestasikan. Jika kalian panik, jika kalian kehilangan fokus, kalian akan pingsan. Kuncinya bukan melawan ilusi itu, tapi menerima kehadirannya lalu melepaskannya. Gunakan teknik Mind Eye Calibration yang sudah kita latih. Rasakan aliran manamu, jangan biarkan emosi mengambil alih kendali."
Mira mengangguk, catatannya sudah lengkap di kepalanya. "Jadi, kita harus tetap pasif secara emosional tapi aktif secara spiritual?"
"Tepat," sahut Ken. "Dan ingat, jika kalian merasa tenggelam, cari cahaya kecil di pusat kesadaran kalian. Itu adalah jangkar kalian."
Pertandingan dimulai. Satu per satu, murid-murid dari berbagai akademi masuk ke dalam kristal-kristal besar di tengah arena. Penonton hening, menunggu reaksi para peserta. Beberapa murid dari akademi saingan langsung berteriak atau menangis dalam hitungan detik, terseret oleh ilusi mereka sendiri. Mereka dikeluarkan oleh healer, wajah pucat dan keringat dingin.
Saat giliran Darius, tubuhnya menegang. Di dalam pikirannya, ia melihat dirinya gagal melindungi teman-temannya, melihat Ken terluka karena kelemahannya. Napasnya memburu. Tapi kemudian, ia mengingat suara Ken: Terima, lalu lepaskan. Darius menarik napas dalam, membiarkan rasa takut itu mengalir lewat dirinya seperti air, tidak menahan, tidak menolak. Perlahan, ketegangan di ototnya menghilang. Ia membuka mata, tersenyum tipis. Ia lulus.
Samantha, Felipe, dan Brenda juga berhasil melewati ujian dengan tenang, berkat latihan meditasi shinobi yang intensif selama berminggu-minggu. Hanya Mira yang sedikit goyah ketika ilusinya menampilkan kegagalan intelektual, tapi ia segera pulih dengan analisis logis bahwa "ini hanya data palsu".
Kelas mereka menjadi salah satu dari tiga kelas yang seluruh anggotanya lulus babak pertama. Tepuk tangan gemuruh menyambut mereka.
Babak kedua adalah Arcane Trivia Duel. Ini bukan sekadar hafalan, tapi aplikasi cepat. Pertanyaan dilempar secara acak, dan peserta harus menjawab sambil mempertahankan perisai mana dari serangan ringan lawan. Siapa yang jawabannya salah atau perisainya jebol, tereliminasi.
"Sekarang, gunakan Flow State," bisik Ken dari pinggir arena. "Jangan pikirkan jawabannya. Biarkan pengetahuan itu muncul secara instingtif. Tubuh kalian sudah tahu caranya bereaksi."
Felipe bersinar di babak ini. Kecepatan berpikirnya yang didukung oleh afinitas angin membuatnya hampir mustahil ditebak. Ia menjawab pertanyaan tentang struktur rune kuno sambil membelokkan bola api lawan dengan gerakan jari yang elegan. Samantha juga unggul dalam pertanyaan terkait racun dan antidot, bidang spesialisasinya. Mereka melaju ke babak berikutnya dengan skor hampir sempurna.